Nasional

BMKG Peringati 20 Tahun Tsunami Pangandaran, Perkuat Ketangguhan Pesisir

Bagikan:
Pejabat BMKG dan perwakilan daerah saat peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran memperkuat ketangguhan pesisir

BMKG menandai 20 tahun peristiwa tsunami Pangandaran sebagai momentum memperkuat ketangguhan masyarakat pesisir. Peringatan ini merefleksikan tragedi pada 17 Juli 2006 pukul 15.19 WIB yang menelan 668 korban jiwa dan memicu percepatan pembangunan InaTEWS, sistem peringatan dini tsunami nasional.

Sejarah dan dampak

Gempa berkekuatan magnitudo M7,7 memicu gelombang tsunami setinggi 4–8 meter yang menyapu sekitar 250 kilometer pesisir selatan Jawa. Dampak meluas dari Pangandaran hingga Yogyakarta menyebabkan kehancuran rumah dan infrastruktur serta korban jiwa yang besar. Peristiwa ini menempatkan Pangandaran sebagai salah satu bencana paling mematikan di Indonesia setelah tsunami Aceh 2004.

Perkuatan InaTEWS dan teknologi

Pasca tragedi, BMKG mempercepat penguatan InaTEWS. Sistem kini didukung jaringan sensor seismograf real-time, ratusan stasiun pengukur pasang surut, dan pusat komputasi berperforma tinggi. Kombinasi ini mempercepat penyebaran informasi peringatan dini tsunami.

Melalui inovasi modern ini, BMKG kini mampu menyiarkan informasi peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa bumi terjadi. Selanjutnya, aksi dini harus dijaga melalui edukasi yang tiada henti, simulasi rutin, dan kolaborasi lintas sektor,

pernyataan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pada webinar peringatan yang digelar tanggal 16 Juli 2026 menekankan pentingnya kecepatan dan kesiapan masyarakat.

Tantangan kesiapsiagaan masyarakat

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyoroti tantangan psikologis terhadap bencana yang tergolong peristiwa langka. Kesadaran risiko cenderung memudar seiring waktu tanpa upaya berkelanjutan.

Kesiapsiagaan akan terwujud selama kita terus menjaga kesadaran tersebut tetap hidup, hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama,

kata Nelly, mengajak semua pihak merawat ingatan publik melalui program edukasi dan latihan rutin.

Kolaborasi pusat-daerah dan aksi lokal

BMKG bekerja sinergis dengan BNPB, pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas. Program berbasis komunitas seperti pembentukan Masyarakat Siaga Tsunami dan inisiatif mitigasi lokal diperkuat untuk membangun budaya evakuasi mandiri.

Kami mengatur zonasi permukiman, membangun infrastruktur pelindung, memasang rambu evakuasi, dan menetapkan titik evakuasi sementara,

ujar Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, yang menegaskan integrasi mitigasi bencana ke dalam kebijakan penataan ruang pesisir.

Desa dinyatakan Tsunami Ready

Dalam kesempatan peringatan, BMKG meresmikan beberapa desa pesisir sebagai Tsunami Ready Community yang mendapat pengakuan UNESCO-IOC. Program ini mewajibkan setiap desa memiliki rencana evakuasi, peta rawan bencana, dan sistem peringatan aktif.

  • Desa Tua Pejat, Kepulauan Mentawai
  • Desa Amping Parak, Sumatra Barat
  • Desa Citepus, Pelabuhanratu
  • Desa Cikakak, Pelabuhanratu
  • Desa Teluk Sepang, Bengkulu
  • Desa Penurunan, Bengkulu
  • Desa Lempuing, Bengkulu

Pengakuan tersebut diharapkan mempercepat transfer pengetahuan formal dan lokal sehingga masyarakat pesisir mampu merespons secara cepat dan mandiri.

Konteks ke depan

Peringatan 20 tahun ini menegaskan bahwa peningkatan teknologi di hulu harus disertai edukasi, latihan, dan kebijakan di hilir. Kolaborasi lintas sektor tetap menjadi kunci untuk memastikan keselamatan publik dan ketahanan jangka panjang wilayah pesisir.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait