Ekonomi

Rupiah Terus Menguat, Tekanan Dolar Mereda di Akhir Pekan

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah terhadap dolar AS dan lonjakan harga minyak mentah

Rupiah menguat terhadap dolar AS pada akhir pekan, ditopang meredanya tekanan dari dolar seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, namun risiko inflasi meningkat karena kenaikan harga minyak. Pada penutupan perdagangan, rupiah naik 0,36 persen atau 65 poin ke posisi Rp17.921 per dolar AS.

Pergerakan kurs dan faktor pendorong

Data menunjukkan rupiah menutup pekan dalam tren positif setelah pasar mulai mencerna prospek pelonggaran kebijakan moneter di AS. Pelemahan dolar AS memberi ruang bagi mata uang regional, termasuk rupiah, untuk menguat.

Namun, dinamika ini tidak sepenuhnya stabil karena sentimen global yang berfluktuasi, terutama terkait komoditas energi. Investor masih mencermati indikator inflasi yang dapat mempengaruhi keputusan bank sentral utama.

Harga minyak memicu kekhawatiran inflasi

Harga minyak mentah kembali melonjak dan mendorong kekhawatiran kenaikan inflasi. Konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan AS, Iran, Arab Saudi, dan kelompok Houthi, menjadi salah satu pemicu naiknya harga minyak.

Pergerakan harga hari ini: minyak Brent berada di kisaran USD84,95–85,28 per barel, sedangkan WTI pada kisaran USD79,55–79,98 per barel.

"Harga minyak yang lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve karena inflasi kemungkinan tetap di atas target," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang, Jumat, 17 Juli 2026. "Mereka mengatakan butuh data harga yang rendah dalam beberapa bulan lagi, sebelum mempertimbangkan pemangkasan suku bunga."

Data Bank Indonesia: SKDU dan PMI BI

Di dalam negeri, Bank Indonesia merilis dua indikator utama yang turut mengarahkan sentimen pasar. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal II-2026 menunjukkan peningkatan aktivitas dunia usaha.

SKDU mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 12,97 persen, naik dari 10,11 persen pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) menunjukkan industri pengolahan masih pada fase ekspansi.

PMI BI tercatat 51,43 persen pada kuartal II, sedikit turun dari periode sebelumnya yang sebesar 52,03 persen. BI mencatat dukungan ekspansi datang dari beberapa komponen sebagai berikut:

  • Volume Produksi: 53,81 persen
  • Volume Persediaan Barang Jadi: 53,00 persen
  • Volume Total Pesanan: 52,77 persen

Secara ringkas, data domestik menunjukkan aktivitas usaha dan sektor manufaktur masih dalam ekspansi, namun tekanan dari harga minyak berpotensi memperumit prospek inflasi dan jadwal penurunan suku bunga internasional.

Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan harga minyak dan data inflasi global sebagai penentu utama arah rupiah dan kebijakan moneter.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait