Kemendikdasmen: 2,9 Juta Anak Tidak Sekolah, Ini Penyebabnya
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat 2,9 juta anak tidak bersekolah di Indonesia, mayoritas berada pada jenjang SMA. Temuan ini diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, pada 9 Juli 2026. Penyebab utama adalah masalah ekonomi keluarga, tantangan geografis, dan rendahnya motivasi melanjutkan pendidikan. Pemerintah tengah merumuskan kebijakan penanganan formal dan layanan khusus agar anak-anak kembali belajar.
Profil anak yang putus sekolah
Data menunjukkan konsentrasi terbesar berada pada usia setara Sekolah Menengah Atas. Banyak anak putus sekolah karena beban ekonomi keluarga meningkat. Selain itu, akses ke layanan pendidikan di daerah terpencil masih terbatas. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap peluang kerja masa depan bagi generasi produktif.
Penyebab utama dan akar masalah
Masalah ekonomi keluarga menjadi pemicu utama. Keterpaksaan bekerja untuk membantu keluarga mendorong anak keluar dari sistem sekolah. Faktor geografis memperparah; sekolah jarak jauh dan fasilitas terbatas membuat anak sulit mengakses pendidikan. Sementara itu, menurunnya motivasi belajar pada sebagian remaja juga berkontribusi pada meningkatnya angka putus sekolah.
Upaya pemerintah dan rekomendasi
Saryadi menyatakan pemerintah sedang menyiapkan langkah komprehensif untuk memulihkan hak belajar anak. Fokusnya meliputi jalur formal dan layanan khusus agar anak kembali ke pendidikan. Validasi data lapangan disebut kunci untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
"Kami sedang merumuskan formula kebijakan penanganan yang komprehensif melalui jalur formal maupun layanan khusus agar jutaan anak ini bisa segera kembali belajar,"
Seorang sosiolog pendidikan menekankan peran pemerintah daerah dan akurasi data dalam penyaluran bantuan. Berikut sejumlah langkah prioritas yang diusulkan:
- Validasi data di lapangan untuk memastikan target penerima bantuan.
- Peningkatan koordinasi lintas sektoral antara kementerian, dinas daerah, dan komunitas.
- Perluasan layanan pendidikan nonformal dan program Kartu Indonesia Pintar untuk menjangkau kelompok rentan.
"Pemerintah daerah juga harus bergerak cepat melakukan validasi data di lapangan agar penyaluran bantuan pendidikan bisa tepat sasaran,"
Dampak jangka panjang dan urgensi intervensi
Jika dibiarkan, angka putus sekolah berpotensi meningkatkan pengangguran dan mengurangi kualitas tenaga kerja di masa depan. Hal ini menjadi ancaman bagi pemanfaatan bonus demografi. Oleh karena itu, penanganan dari hulu ke hilir harus segera diimplementasikan oleh semua pemangku kepentingan.
Penutup
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta komunitas peduli pendidikan menjadi penentu keberhasilan. Upaya berkelanjutan diharapkan mengembalikan anak usia produktif ke lingkungan pembelajaran yang lebih layak dan inklusif. Untuk melihat pernyataan lengkap, saksikan tautan video.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Sejarah Pos Indonesia: Dari Batavia 1746 hingga Jaringan 24 Ribu Titik
Pos Indonesia diperingati setiap 26 Agustus, menandai kantor pos pertama di Batavia (1746) dan perkembangan...
Fahira Ungkap 6 Urgensi RUU Perampasan Aset
Fahira Idris sebut enam urgensi percepatan RUU Perampasan Aset; target pengesahan Desember 2026 untuk perkua...
Prabowo: Pimpinan Danantara Pantas Dapat Bintang Kehormatan
Presiden Prabowo menyebut pimpinan Danantara layak mendapat bintang kehormatan karena berhasil menekan keboc...
Maulid Nabi 1448 H: Momentum Perkuat Kepedulian Sosial
Maulid Nabi 1448 H pada 25 Agustus 2026 dijadikan momentum untuk memperkuat kepedulian sosial dan meneladani...
Prabowo Jadikan PLTS 100 GWp Pilar Kemandirian Energi
Presiden Prabowo luncurkan Program PLTS 100 GWp di Bali sebagai langkah kemandirian energi, dipadukan dengan...
PU Kerahkan Pompa dan Air Tangani Karhutla di Kalteng & Malut
Kementerian PU mengerahkan pompa, personel, dan pasokan air untuk memadamkan karhutla di Kalimantan Tengah d...