Peziarah di Makam Bung Karno Tekankan Pentingnya Jas Merah
BLITAR — Sejumlah peziarah memadati kompleks Makam Bung Karno, Kota Blitar, Sabtu (7/11/2026). Mereka datang berombongan, bersama keluarga, atau bersama santri untuk berdoa sekaligus mengenang perjalanan hidup Bung Karno. Kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk mengenalkan tokoh proklamator tersebut kepada generasi muda.
Suasana ziarah dan tujuan kunjungan
Suasana siang yang beranjak sore dipenuhi kunjungan dari berbagai daerah. Salah satu rombongan datang dari Jember, membawa anak-anak pesantren. Tujuan utama mereka bukan sekadar tahlil, melainkan edukasi sejarah bagi para santri.
Imam Syafii, pemimpin rombongan, mengatakan ziarah bertujuan menumbuhkan rasa ingin tahu dan pemahaman terhadap perjalanan bangsa. Ia menilai kemerdekaan bukan hadiah saja, melainkan hasil perjuangan panjang para pendiri negara.
Kami datang bersama keluarga dan para santri untuk mengenang sosok besar Bung Karno sekaligus mengenalkan beliau kepada para santri. Beliau adalah pendiri bangsa dan Presiden pertama Republik Indonesia. Perjuangannya patut menjadi teladan bagi kami sebagai generasi penerus.
Pesan 'Jas Merah' untuk generasi muda
Dalam kunjungan itu, Imam menekankan pentingnya pesan Jas Merah sebagai pengingat agar generasi muda tidak melupakan sejarah. Menurutnya, mengenal tokoh bangsa lebih dari sekadar menghafal nama; generasi penerus harus memahami gagasan, perjuangan, dan nilai yang diwariskan.
Yang paling utama adalah Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Anak-anak muda harus tahu siapa yang memperjuangkan dan mendirikan bangsa ini. Jangan sampai kita menikmati kemerdekaan, tetapi justru melupakan sejarah yang melahirkannya.
Warisan nilai yang relevan
Kesaksian lain datang dari Silvi, peziarah asal Jombang. Ia melihat Bung Karno sebagai sosok yang mewariskan nilai patriotisme, nasionalisme, dan jiwa kepemimpinan. Kunjungan ke makam Bung Karno baginya selaras dengan tradisi ziarah kepada tokoh lain seperti Gus Dur di Jombang.
Sosok pemimpin seperti beliau patut kita kenang dan teladani, terutama semangat patriotisme, nasionalisme, serta jiwa kepemimpinannya.
Silvi menambahkan bahwa merawat memori tokoh bangsa berarti meneruskan nilai-nilai baik kepada generasi berikut. Ia percaya nilai-nilai itu relevan untuk memperkuat cinta tanah air dan persatuan saat ini.
Makna ziarah bagi ingatan kolektif
Di kompleks makam, ziarah menjadi sarana refleksi dan pendidikan. Ada yang datang untuk berdoa, ada yang membawa keluarga, ada pula yang menyertakan santri agar sejarah lebih hidup dan mudah dipahami.
Ziarah bukan sekadar kunjungan ke makam. Bagi banyak pengunjung, perjalanan itu adalah momen untuk mengingat kembali perjuangan bangsa dan membawa pulang pesan tentang kecintaan kepada Indonesia.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Doa Bersama Jelang Soekarno Run di Makam Bung Karno
Tiga DPC PDI Perjuangan menggelar doa bersama di Makam Bung Karno, Jumat malam, untuk memohon kelancaran Soe...
Bupati Bangkalan Lepas Atlet ke POPDA 2026, Target Pertahankan Peringkat
Bupati Bangkalan melepas 98 atlet ke POPDA 2026; Pemkab siapkan fasilitas dan beasiswa untuk pertahankan pos...
Ijen Geopark Raih Green Card UNESCO, Tantangan ke Arah Kesejahteraan
Ijen Geopark kembali meraih Green Card UNESCO; pengakuan harus diikuti langkah konservasi dan pemberdayaan u...
Inflasi Banyuwangi Terendah di Jatim, 2,69% per September 2026
Inflasi Banyuwangi tercatat 2,69% per September 2026, terendah di Jatim berkat kolaborasi TPID dan forum HLM...
Jalan Usaha Tani 200 m di Pasuruan Ditinjau, Permudah Akses Petani
Arifin meninjau pembangunan jalan usaha tani 200 m di Dusun Kedungturi, Pasuruan, sebagai upaya perbaikan ak...
Ketua DPRD Malang Dorong Penguatan Ekosistem Seni dan Urban Farming
Ketua DPRD Malang dorong KIK lebih bermanfaat, permudah perizinan seni, dan kembangkan urban farming untuk k...