Empat Desa di Malang Jadi Pilot Project Zero Waste
Malang — Empat desa di Kabupaten Malang dipilih menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis zero waste untuk lima tahun ke depan. Inisiatif ini digagas oleh Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, dan diluncurkan saat sosialisasi pada Jumat, 30 Oktober 2026. Program bertujuan mencapai kemandirian pengelolaan sampah tingkat desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.
Lokasi pilot dan target program
Desa yang ditunjuk ialah Sananrejo (Kecamatan Turen), Jambangan (Kecamatan Dampit), serta Pandanajeng dan Pajaran (Kecamatan Tumpang). Menurut Sri Untari, keempat desa ini akan menjadi model jangka panjang agar pengelolaan sampah bisa berlangsung kolektif dan berkelanjutan.
"Hari ini saya keliling bertemu masyarakat di empat desa sekaligus menjadi starting point pilot project..."
Strategi pengelolaan dan perubahan perilaku
Program menekankan dua pendekatan: mengurangi akumulasi sampah dan membangun kebiasaan memanfaatkan limbah. Warga diajak memisahkan sampah dari rumah tangga dan mengolahnya di tingkat desa sehingga limbah menjadi bahan baku produk produktif.
"Kami mengajak para tokoh desa dan warga untuk bisa membuat sampah menjadi barang produktif..."
Pelatihan teknis dan teknologi
Untuk mendukung implementasi, Sri Untari menghadirkan akademisi dan praktisi. Salah satu narasumber adalah Adi Setiawan, dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, yang menjelaskan pemanfaatan limbah organik lokal.
Adi memaparkan bahwa kulit buah alpukat, durian, dan sisa tanaman lain bisa diolah menjadi eco-enzyme. Produk ini dapat digunakan sebagai cairan pembersih ramah lingkungan. Sementara itu, limbah plastik diarahkan ke teknologi pengolahan yang memberikan nilai guna baru dan mengurangi pencemaran.
Dampak ekonomi dan sosial
Program ini bukan sekadar soal lingkungan. Dengan membangun ekosistem pengolahan di desa, ada potensi terciptanya usaha lokal baru. Kegiatan kolektif diharapkan mendorong ekonomi pedesaan melalui produksi barang bernilai tambah dari limbah.
Prospek dan harapan
Sri Untari berharap keterlibatan tokoh desa, warga, dan tenaga ahli mampu menjadikan pilot project ini penggerak perekonomian pedesaan yang berkelanjutan. Keberhasilan di empat desa tersebut diharapkan menjadi contoh bagi wilayah lain di Jawa Timur.
"Harapan besar saya dari gagasan kolektif ini dapat menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat pedesaan secara berkelanjutan,"
Ke depan, keberlanjutan program akan bergantung pada partisipasi masyarakat dan transfer teknologi yang tepat guna. Monitoring dan evaluasi juga direncanakan untuk menilai hasil lima tahun pertama.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
10 Atlet Sambo Bojonegoro Berangkat ke Kejurprov Jatim 2026
Sepuluh atlet Sambo Bojonegoro diberangkatkan ke Kejurprov Jatim 2026 di Gelanggang Remaja Surabaya pada 30...
Novita Bagikan 4.000 Liter Air dan Mesin Pencacah di Trenggalek
Novita Hardini menyalurkan 4.000 liter air bersih, paket sembako, dan 36 mesin pencacah limbah untuk warga d...
Gelar Sosialisasi, Guntur Dorong Fasilitasi Alat Gamelan untuk Langen Beksan
Guntur Wahono berjanji fasilitasi pengadaan gamelan lewat APBD Jatim untuk mendukung paguyuban Langen Beksan...
DPR Serahkan 37 Unit Alsintan untuk 36 Kelompok Tani di Bondowoso
Sonny T. Danaparamita menyalurkan 37 unit alsintan bagi 36 kelompok tani Bondowoso pada 28 Oktober 2026 untu...
Repdem Jatim Bersihkan Sampah di Puncak Bayangan Gunung Penanggungan
Lebih dari 100 aktivis Repdem Jatim membersihkan sampah di Puncak Bayangan Gunung Penanggungan, Rabu (28/10/...
Warga Karangsari Protes Pengelolaan HGU PT Makarti di Banyuwangi
Warga Karangsari protes pengelolaan HGU PT Makarti seluas >125 ha; tuntut transparansi dan manfaat ekonomi,...