Nasional

Wamentan Pastikan Fondasi Swasembada Pangan Diperkuat hingga 2029

Bagikan:
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono berbicara dalam acara PENAS Petani Nelayan di Gorontalo

Gorontalo — Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan pemerintah terus memperkuat fondasi swasembada pangan melalui perbaikan irigasi, penyediaan benih berkualitas, dan modernisasi alat mesin pertanian. Pernyataan itu disampaikan saat dialog dengan petani dan nelayan dalam PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Selasa, 23 Juni 2026. Upaya ini ditujukan untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Target dan prioritas pemerintah

Sudaryono menyatakan capaian penghentian impor sejumlah komoditas strategis menjadi alasan untuk terus memperbaiki sistem produksi pangan. Pemerintah fokus pada ketersediaan benih bermutu, perbaikan infrastruktur, dan distribusi sarana produksi. Langkah-langkah itu diharapkan meningkatkan produktivitas dan mengokohkan ketahanan pangan nasional.

Lebih lanjut, Sudaryono menegaskan komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan swasembada sebagai bagian penting dari ketahanan dan kedaulatan bangsa.

"Gak impor pangan lagi, gak impor beras lagi, gak impor jagung lagi, gak impor gula lagi. Itu kita syukuri, sembari kita juga secara perlahan kita perbaiki apa yang memang harus kita perbaiki,"

Revitalisasi irigasi: anggaran dan dampak

Untuk memperkuat produksi, pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk revitalisasi irigasi nasional. Program ini dilaksanakan bertahap dan akan berlanjut sampai 2029. Alokasi anggaran disebut meningkat sejak 2025.

"Presiden Prabowo tahun lalu telah merevitalisasi dengan anggaran sekitar Rp12 triliun tahun 2025. Tahun 2026 ini Rp14 triliun dan akan diteruskan sampai dengan 2029,"

Perbaikan jaringan irigasi diharapkan meningkatkan indeks pertanaman. Dengan irigasi yang lebih baik, petani dapat memperpanjang musim tanam. Sudaryono menjelaskan potensi naiknya frekuensi tanam bisa langsung meningkatkan produksi dan pendapatan petani.

"Kita harapkan dengan adanya irigasi orang bisa nanam di musim kemarau. Yang tadinya nanam sekali bisa dua kali, yang dua kali jadi tiga kali,"

PENAS sebagai wadah penyerapan aspirasi

Sudaryono menyebut PENAS Petani Nelayan menjadi momen strategis untuk menyerap aspirasi dari lapangan. Kegiatan ini memberi peluang bagi pemerintah mendengar persoalan yang selama ini jarang tersalurkan ke pusat kebijakan.

Menurutnya, dialog langsung dan kegiatan lapangan memudahkan tindak lanjut program, termasuk distribusi benih, perbaikan irigasi, dan peningkatan akses alat mesin pertanian ke wilayah timur Indonesia.

Dengan rangkaian kebijakan ini, pemerintah menargetkan peningkatan produksi pangan yang berkelanjutan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi petani.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait