Nasional

UMN Bekali Desa Citeureup dengan Keterampilan Mitigasi Bencana

Bagikan:
Pelatihan mitigasi bencana UMN di Lembur Mangrove Patikang Desa Citeureup

Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menggelar pelatihan mitigasi bencana bagi warga Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Pandeglang, Banten pada 18-19 Agustus 2026. Kegiatan di Lembur Mangrove Patikang itu diikuti 19 peserta dan didukung lima panitia yang terdiri atas dosen dan mahasiswa UMN. Tujuannya memperkuat literasi kebencanaan, komunikasi mitigasi, serta kemampuan komunikasi dan konten digital untuk mendukung pengembangan desa wisata yang lebih aman.

Konten pelatihan: fokus pada risiko lokal

Pelatihan mengupas konsep dasar bencana mulai dari perbedaan peristiwa alam, ancaman, hingga risiko dan bencana. Peserta mendapat materi tentang potensi bahaya yang relevan dengan kondisi pesisir Citeureup, seperti tsunami, banjir dan rob, abrasi, cuaca ekstrem, pergerakan tanah, serta dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Selain pemahaman risiko, materi praktis mencakup tahapan penanggulangan bencana, status aktivitas gunung api, jalur evakuasi, dan titik kumpul. Metode pelatihan mengombinasikan penjelasan teori dan peninjauan elemen kesiapsiagaan lokal.

Pesan pelaksana: komunikasikan risiko secara akurat

Tim pelaksana menekankan bahwa kemampuan menyampaikan informasi bencana sama pentingnya dengan pemahaman risiko itu sendiri. Mereka mendorong komunikasi yang tenang, akurat, dan mudah dipahami agar tidak menimbulkan kepanikan.

"Membicarakan potensi bahaya tidak selalu harus membuat masyarakat takut atau panik," kata Maria Advenita Gita Elmada.

"Justru, risiko perlu dibicarakan secara terbuka dengan informasi yang akurat, sumber yang jelas. Serta, arahan tindakan yang mudah dipahami," tambah Maria.

Respons dari tokoh lokal

Kepala Badan Permusyawaratan Desa Citeureup, Ujang, menilai pelatihan relevan dengan kondisi setempat. Ia pernah terlibat dalam penanganan bencana saat tsunami Selat Sunda 2018, sehingga memahami pentingnya pengetahuan kebencanaan untuk membangun kesiapsiagaan komunitas.

"Desa Citeureup merupakan wilayah yang memiliki berbagai potensi bencana. Karena itu, materi yang disampaikan terasa sesuai dan relevan dengan kondisi yang kami hadapi," ujar Ujang.

Buku saku dan keterampilan digital

Sebagai bagian dari program, tim UMN menyusun buku saku kebencanaan yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Buku itu berisi informasi potensi bahaya, langkah kesiapsiagaan, rencana evakuasi, isi tas siaga, serta panduan komunikasi dalam keadaan darurat.

"Buku saku ini kami tempatkan sebagai karya bersama," kata Adhreza Brahma, yang menjelaskan proses penyusunan melibatkan pengetahuan dan pengalaman masyarakat.

Ketua tim, Theresia Lavietha Vivrie Lolita, menambahkan bahwa keterampilan digital penting bagi pengelola desa wisata. Masyarakat perlu memahami audiens, pesan yang ingin disampaikan, dan bagaimana konten merepresentasikan kekuatan lokal.

"Masyarakat juga perlu memahami siapa audiensnya, pesan apa yang ingin disampaikan, dan bagaimana konten tersebut dapat merepresentasikan kekuatan," kata Theresia.

Pendanaan dan prospek keberlanjutan

Program ini dibiayai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Lingkup Pemberdayaan Kemitraan 2026. Pelaksanaan mengacu pada Nomor Kontrak 0698/LL3/DT.06.01/2026 dan 2144/HIBAHPKM-RIS/IV/2026.

UMN berharap pengetahuan, buku saku, komunikasi, dan keterampilan digital yang dikembangkan dapat memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan keamanan pengunjung, serta mendukung keberlanjutan wisata Lembur Mangrove Patikang secara berkelanjutan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait