Produk Fesyen UKM Raih Potensi Transaksi Rp33,15 Miliar di Korea
Produk fesyen UMKM Indonesia mencatat potensi transaksi sebesar USD 1,95 juta atau sekitar Rp33,15 miliar melalui partisipasi pada ASEAN Panorama 2026 di Seoul, Korea Selatan. Angka tersebut dicatat sampai akhir Mei 2026 dan menunjukkan minat kuat pasar Korea terhadap produk fesyen Indonesia.
Detail potensi transaksi dan kegiatan
Indonesia mengikutsertakan 10 pelaku UKM pada pameran tahunan yang diselenggarakan oleh ASEAN-Korea Centre. Para peserta menampilkan berbagai produk fesyen dan gaya hidup yang mewakili keragaman kriya lokal.
Selama acara, pelaku UKM mengikuti seminar serta sesi business matching dengan sejumlah importir dan buyer dari Korea Selatan. Kegiatan ini memberikan wawasan mengenai tren pasar, preferensi konsumen, dan persyaratan masuk pasar Korea.
Dukungan diplomasi dan akses pasar
Atase Perdagangan RI di Seoul, Roesfitawati, menyatakan pasar Korea Selatan masih terbuka luas bagi produk Indonesia. Ia menilai capaian transaksi sementara ini mencerminkan tingginya minat konsumen setempat.
Melalui kolaborasi dengan ASEAN-Korea Centre (AKC), kami terus menjembatani pelaku UKM Indonesia dengan importir dan buyer potensial. Ke depan, kami akan terus memperluas akses pasar agar semakin banyak UKM Indonesia mampu menembus pasar Korea Selatan.
Selain itu, Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, menekankan nilai promosi bersama ASEAN dalam memperkuat posisi produk di pasar Korea.
ASEAN Panorama 2026 juga memperkuat soft power dan posisi produk Indonesia di Korea Selatan. Selain itu, ajang ini turut mempererat solidaritas ASEAN dengan menghadirkan seluruh negara anggota dalam satu platform promosi bersama.
Pengalaman pelaku UKM dan pelajaran pasar
Pendiri IKIDS, Melati Nurani Nayu, menyatakan partisipasi membuka peluang ekspor dan memperluas jejaring dengan distributor lokal di Korea Selatan. Ia juga mencatat manfaat dari pemahaman tren melalui kunjungan ke pelaku industri setempat.
Kami juga dapat memperluas jejaring dengan distributor serta memperoleh wawasan mengenai perkembangan industri fesyen Korea Selatan melalui kunjungan ke Samsung C&T Fashion Group.
Marketing Manager Musinsa, Nara Kim, menilai produk fesyen Indonesia kuat karena mengangkat unsur kriya dan budaya. Namun, ia mengingatkan pentingnya pemenuhan standar keamanan produk dan keberlanjutan bahan baku untuk meningkatkan daya saing.
Implikasi dan langkah ke depan
Hasil awal ini menunjukkan potensi nyata untuk ekspor fesyen UKM Indonesia ke Korea Selatan. Untuk mengonversi potensi menjadi transaksi nyata, pelaku usaha perlu memperkuat standar kualitas, sertifikasi keamanan, dan praktik keberlanjutan.
Kolaborasi berkelanjutan antara perwakilan perdagangan, ASEAN-Korea Centre, dan pelaku industri diharapkan memperluas akses pasar. Dengan dukungan itu, semakin banyak UKM berpeluang menembus pasar Korea dan memperbesar nilai ekspor.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.