Tren Lari FOMO Berujung Gaya Hidup Sehat
Tren lari di Indonesia yang semula dipicu FOMO kini bertransformasi menjadi gaya hidup sehat. Pernyataan ini disampaikan Tatash Pridasari, pelari sekaligus kreator konten, pada Jumat, 19 Juni 2026. Ia menyebut peningkatan partisipasi didorong oleh suasana lomba, relasi baru, dan target pribadi yang berkelanjutan.
FOMO sebagai pintu masuk
Tatash menilai banyak orang awalnya ikut karena takut ketinggalan atau ingin mencoba pengalaman baru. Namun, dorongan awal itu berkembang menjadi kebiasaan berolahraga yang teratur. Proses berulang dari ikut lomba ke latihan rutin membuat aktivitas lari lebih dari sekadar tren sesaat.
Kalau dikatakan FOMO mungkin iya. Tapi ternyata FOMO ini membawa kita kepada kesehatan.
Motivasi sosial dan pengalaman positif
Menurut Tatash, suasana lomba yang menyenangkan menjadi magnet utama peserta. Selain itu, mereka mendapat kenalan baru dan target personal yang menumbuhkan motivasi.
Pengalaman sosial yang positif memperkuat semangat berolahraga bersama, sehingga partisipasi terus meningkat, terutama di kalangan komunitas dan keluarga.
Aku mencari vibes-nya, karena setiap race membawa kebahagiaan dan relasi baru.
Ekspresi diri dan prioritas kesehatan
Tatash juga mengamati bahwa lari kini menjadi medium ekspresi diri. Pilihan fashion saat berolahraga jadi bagian dari kesenangan, asalkan tujuan utama menjaga kebugaran tidak terabaikan.
Kalau lari membuat bahagia lewat fashion juga tidak masalah.
Persiapan dan keselamatan pelari
Ia mengingatkan pentingnya persiapan sebelum mengikuti lomba. Latihan teratur, nutrisi seimbang, dan istirahat cukup menjadi kunci agar partisipasi berjalan aman dan efektif.
- Latihan rutin sesuai kemampuan dan target
- Nutrisi seimbang untuk mendukung performa
- Istirahat dan pemulihan yang cukup
- Mengenali sinyal tubuh untuk mencegah cedera
Pandangan pemerintah
Menanggapi fenomena ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melihat FOMO tidak selalu bermasalah. Ia menilai tren positif selama mendorong masyarakat bergerak lebih aktif dan hidup lebih sehat.
Fenomena FOMO tidak bermasalah selama mendorong masyarakat hidup lebih aktif dan sehat,
Implikasinya, transformasi dari FOMO ke kebiasaan sehat dapat mengurangi risiko penyakit tidak menular dalam jangka panjang. Ke depan, dukungan fasilitas publik, program komunitas, dan edukasi keselamatan olahraga akan memperkuat perubahan gaya hidup ini.
Berita Terkait
Minum Air Putih Cukup: Jaga Tubuh Tetap Prima dan Cegah Dehidrasi
Minum air putih cukup penting untuk mencegah dehidrasi, menjaga fungsi organ, dan mendukung sirkulasi darah...
Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Penyakit, Jangan Remehkan
Kurang tidur meningkatkan risiko penyakit kronis seperti jantung, diabetes, dan hipertensi; penuhi tujuh hin...
Yayasan UHN Rencanakan RS Pendidikan 17 Lantai di Medan
Yayasan UHN berencana mendirikan Nommensen International Hospital 17 lantai di Medan dengan 400 tempat tidur...
YPKI Ajak Pegawai RRI Waspadai Risiko Kanker
LPP RRI bersama YPKI menggelar sosialisasi pencegahan kanker di auditorium Yusuf Ronodipuro pada 18 Juni 202...
Kementan: Konsumsi Susu Per Kapita RI Hanya 16,8 kg
Kementan sebut konsumsi susu per kapita Indonesia 16,8 kg/tahun, masih rendah; dorong program BMG dan edukas...
Amankah Makan Buah Malam Hari? Manfaat dan Tips Aman
Makan buah malam hari umumnya aman dan bisa mendukung pencernaan serta tidur, asalkan jenis dan porsinya tep...