Seskab Teddy Jawab Kritik Dino: Biaya Kunjungan Luar Negeri Ditanggung Presiden
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalalkelebihan biaya kunjungan ditanggung oleh Presiden secara pribadi dan menegaskan pengurangan jumlah rombongan dibanding era sebelumnya.
Tanggapan resmi Sekretaris Kabinet
Teddy menyampaikan klarifikasi melalui keterangan video yang diunggah di akun resmi Sekretariat Kabinet. Ia berterima kasih atas masukan namun meluruskan beberapa poin yang dinilai perlu dijelaskan publik.
"Kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,"
Teddy menegaskan bahwa biaya tambahan di luar anggaran negara bukan dibebankan pada APBN. Pernyataan ini menegaskan posisi pemerintah terhadap kritik pemborosan.
Pengurangan rombongan dan perbandingan era sebelumnya
Pemerintah juga memastikan jumlah rombongan yang mendampingi Presiden pada kunjungan luar negeri dipangkas. Teddy menyebut batas ideal saat ini berkisar antara 50 sampai 60 orang maksimal.
"Jadi kalau dulu, itu sekali keluar negeri bisa lebih dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu. Zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,"
Menurut Teddy, pengurangan tersebut sudah terlihat dan diketahui publik, termasuk wartawan yang biasa meliput kegiatan kenegaraan.
Saran penggunaan teknologi dan penentuan prioritas pertemuan
Dino sebelumnya menyarankan agar Presiden memanfaatkan video call atau aplikasi pesan seperti Zoom dan WhatsApp untuk mengurangi frekuensi perjalanan kenegaraan. Ia mengusulkan formula "1 plus 8" agar pertemuan bilateral dapat dilakukan bersamaan dengan forum internasional.
"Sembari menyampaikan pidato, Presiden juga bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan delapan kepala negara lain yang juga hadir,"
"Dengan satu videocall yang bernilai 0 rupiah, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan keluar negeri,"
Teddy menanggapi saran tersebut dengan menjelaskan bahwa penentuan format pertemuan adalah kewenangan Presiden, dengan saran dari Menteri Luar Negeri. Presiden dinilai lebih mengetahui prioritas dan urgensi pertemuan.
Dampak anggaran dan prospek ke depan
Pernyataan kedua pihak membuka diskusi tentang efisiensi anggaran kenegaraan dan penggunaan teknologi diplomasi. Jika rekomendasi seperti "1 plus 8" diadopsi, potensi penghematan fiskal dapat signifikan.
Ke depan, publik dapat mengharapkan klarifikasi lebih lanjut dari Kementerian Luar Negeri mengenai mekanisme prioritas pertemuan dan laporan biaya perjalanan kenegaraan.
Berita Terkait
BGN Instruksikan SPPG Beli Telur Langsung dari Peternak di Magetan
BGN minta SPPG di Magetan membeli telur langsung dari peternak mulai 1 Juni 2026 untuk pulihkan harga yang d...
Menbud: Arsip Filateli Kunci Memahami Sejarah Indonesia
Menteri Kebudayaan Fadli Zon ajak publik memanfaatkan arsip filateli — prangko, surat, dokumen pos — sebagai...
ASDP Uji Coba Sterilisasi Pelabuhan Merak dan Bakauheni
ASDP mulai uji coba sterilisasi kawasan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni sejak 1 Juni 2026 untuk meningkatka...
DPR Dukung Operasional PT DSI untuk Perkuat Tata Kelola Ekspor
DPR mendukung operasional PT DSI mulai 1 Juni 2026 untuk memperkuat tata kelola ekspor SDA dan optimalkan pe...
Prabowo Terima Wakil PM Qatar di Istana, Perkuat Kerja Sama
Presiden Prabowo menerima Wakil PM Qatar di Istana Merdeka, 1 Juni 2026, untuk memperkuat kerja sama bilater...
Jimly Kenang Ryamizard: Profesional dan Panutan TNI
Jimly Asshiddiqie mengenang Ryamizard Ryacudu sebagai sosok profesional, bersih, dan panutan TNI pada pemaka...