Teba Modern di Batu: Ubah Sampah Organik Jadi Kompos
Batu — Wakil Ketua I DPRD Kota Batu, H. Punjul Santoso, menginisiasi pembangunan teba modern di RT 6 RW 1, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. Program ini bertujuan mengolah sampah organik rumah tangga langsung di lingkungan permukiman agar tidak seluruhnya masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Desain sederhana dan bahan lokal
Fasilitas teba dibuat dengan desain sederhana berukuran standar 1 x 1 x 1 meter kubik. Sarana dapat dibangun dari material mudah ditemui, sehingga penerapannya fleksibel di berbagai wilayah permukiman.
"Seperti buis beton, bambu, gedek, maupun drum bekas. Penerapannya juga dapat disesuaikan secara mandiri oleh masyarakat di berbagai wilayah,"
Proses pengolahan dan manfaat
Cara kerja teba relatif praktis. Sampah organik yang telah dipilah dimasukkan ke wadah penampungan dan diberi biodekomposer untuk mempercepat penguraian.
Hasilnya berupa kompos yang bisa digunakan untuk penghijauan, kebun rumah, dan kegiatan urban farming. Dengan begitu, volume sampah yang dibawa ke TPA berkurang, sementara warga mendapatkan manfaat langsung dari limbah sebelumnya dianggap tak bernilai.
Proyek percontohan dan keterlibatan masyarakat
Punjul menegaskan bahwa pembangunan fisik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Konsistensi warga memilah sampah dan memanfaatkan fasilitas menjadi kunci agar pengelolaan organik berjalan berkelanjutan.
"Dengan adanya pembuatan teba modern di lingkungan RT 6 RW 1 Kelurahan Sisir, diharapkan tumbuh kesadaran bersama untuk memilah sampah sejak dari rumah, mengolah sampah organik secara mandiri, serta membangun budaya gotong royong dalam menjaga kelestarian lingkungan,"
Fasilitas di Sisir diharapkan menjadi model yang bisa direplikasi ke permukiman lain di Kota Batu.
Agenda nasional dan target kegiatan
Inisiatif ini juga terkait persiapan Pekan Peduli Sampah Nasional (PPSN) yang berlangsung pada 9–14 November 2026, dengan puncak kegiatan pada 14 November 2026. Pada hari itu, rencananya digelar kerja bakti massal, sosialisasi pemilahan sampah, dan edukasi pengolahan organik serentak.
Rangkaian kegiatan diarahkan untuk mendukung pemecahan tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI): pembuatan teba modern, kerja bakti massal kader partai, dan aksi pemilahan sampah serentak di berbagai daerah.
Implikasi dan harapan ke depan
Punjul berharap gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremoni. Ia menekankan perlunya pembiasaan memilah sampah sejak rumah untuk mencapai lingkungan yang bersih dan lestari.
"Harapannya, gerakan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi salah satu ikhtiar mewujudkan Kota Batu yang bersih, sehat, serta berkelanjutan,"
Jika direplikasi, model teba modern berpotensi menurunkan beban TPA dan mendorong prakarsa pengelolaan sampah berbasis komunitas di wilayah lain.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Kediri Bidik 5 Besar Porprov Jatim 2027 dengan Puslatkab Jangka Panjang
Kediri menerapkan Puslatkab jangka panjang sejak Juli 2026 untuk mengejar target lima besar Porprov Jatim 20...
PDI Perjuangan: Optimalisasi Posko & Logistik Usai Banjir Lahar Semeru
Eko Yunianto minta posko darurat, logistik, dan jalur alternatif dioptimalkan usai banjir lahar Semeru untuk...
PDI Perjuangan dan Komunitas Tanam Mangga di Bantaran Kali Madiun
PDI Perjuangan Kota Madiun dan komunitas Big Bantaran akan kerja bakti dan tanam pohon mangga di bantaran Ka...
Sri Untari Ajak Warga Malang Pilah Sampah dari Rumah
Sri Untari sosialisasi pengolahan limbah di Malang, mendorong warga pilah sampah rumah tangga jadi produk be...
Kemiskinan Jember Turun, Namun Warga Tanpa KTP Masih Tertinggal
Penurunan kemiskinan Jember 15 ribu orang belum menjangkau warga tanpa KTP yang gagal akses bantuan sosial.
Festival Tata Ruang Ngawi: Edukasi Warga dan Lindungi Lahan Pertanian
Festival Tata Ruang Ngawi digelar 1 Nov 2026 untuk edukasi warga dan menjaga kawasan strategis pertanian dar...