Nasional

Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Pengembangan Kendaraan Listrik

Bagikan:
Ilustrasi pabrik dan baterai kendaraan listrik untuk pengembangan EV nasional

Pemerintah menyiapkan stimulus untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik nasional. Pernyataan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026. Stimulus ini masih dibahas lintas kementerian teknis dan anggarannya sudah tersedia, kata Airlangga.

Stimulus dan kesiapan anggaran

Menurut Airlangga, dana untuk program ini telah dialokasikan. Pemerintah tinggal menyelesaikan mekanisme peluncuran berdasarkan rencana penyerapan anggaran.

"Stimulus EV nanti kita akan monitor karena rencana kan ada rencana pembangunan atau pembuatan motor listrik nasional. Nah ini masih dalam pembahasan antar kementerian teknis dan anggarannya sudah ada tinggal bagaimana kita meluncurkan," ujar Airlangga.

Rencana stimulus diarahkan untuk mempercepat produksi kendaraan listrik lokal dan meningkatkan keterlibatan industri dalam rantai nilai domestik.

Fokus pada produksi nasional dan TKDN

Pemerintah berharap stimulus meningkatkan kapasitas produksi nasional dan persentase tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada kendaraan listrik. Airlangga menekankan target TKDN sebagai bagian penting strategi industrialisasi EV.

"Di mana ini nanti dampaknya adalah meningkatkan kemampuan daripada produksi yang sudah ada, produksi nasional. Dan juga meningkatkan TKDN," katanya.

Baterai: komponen utama dan skema teknis

Airlangga menyebut baterai sebagai komponen dengan bobot biaya terbesar pada kendaraan listrik, mencapai sekitar 60 persen dari total biaya kendaraan.

Pemerintah sedang memetakan skema pemanfaatan baterai, termasuk opsi battery swap atau integrasi baterai dengan motor listrik.

"Dan salah satu yang paling tinggi nanti komponen TKDN-nya untuk EV itu adalah baterai di mana biaya baterai adalah 60 persen. Tinggal skemanya apakah skema battery swap atau itu menjadi bagian dari integrasi dari motor," ujar Airlangga.

Dampak ekonomi dan target pertumbuhan

Peluncuran stimulus juga dikaitkan dengan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Pada semester kedua 2026, pemerintah tetap menargetkan pertumbuhan sesuai asumsi APBN sebesar 5,4 persen.

Airlangga menyebut investasi, belanja pemerintah, daya beli masyarakat, serta aktivitas ekspor-impor akan menjadi pendorong utama pencapaian target tersebut.

"Semester dua tentu kita menargetkan tahun ini kan sesuai dengan APBN 5,4. Jadi tentu kita harus menjaga momentum pertumbuhan di atas 5," ucap Airlangga.

Langkah-langkah teknis dan jadwal resmi peluncuran stimulus akan diumumkan setelah penyelesaian pembahasan antar-kementerian dan konfirmasi rencana penyerapan anggaran.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait