Kemendikdasmen Luncurkan SPMB PJJ 2026 untuk Kembalikan Anak Tidak Sekolah
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan SPMB PJJ untuk jenjang pendidikan menengah tahun 2026 sebagai upaya mengembalikan anak tidak sekolah ke pembelajaran berkelanjutan. Peluncuran disertai deklarasi nasional pada 2026 dan dirancang untuk menjangkau, mendampingi, serta memastikan peserta menyelesaikan pendidikan.
Tujuan dan sasaran program
Program Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ) ditujukan untuk anak usia sekolah menengah yang belum mengakses layanan pendidikan. Data Kemendikdasmen menunjukkan sekitar 2,4 juta anak usia 16–18 tahun belum mengakses pendidikan. SPMB PJJ hadir untuk mengatasi hambatan akses, baik geografis, ekonomi, maupun sosial.
Pendekatan layanan: dari menunggu ke mendatangi
Kemendikdasmen menegaskan layanan pendidikan harus berubah dari pola pasif menjadi aktif. Pendekatan baru ini berfokus pada penjangkauan dan pendampingan sehingga anak yang sulit mengakses sekolah dapat dijemput untuk belajar.
“Selama bertahun-tahun kita terbiasa dengan anak yang datang ke sekolah. Kini negara harus hadir mendekati dan menjemput mereka,”
pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, saat keterangan tertulis pada Sabtu, 11 Juli 2026. Pendekatan aktif juga ditegaskan oleh pejabat lain untuk memastikan tidak sekadar pendaftaran, tetapi kelanjutan pendidikan sampai tuntas.
Indikator keberhasilan
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menyatakan keberhasilan SPMB PJJ diukur berdasarkan kemampuan peserta bertahan hingga lulus. Target utama bukan jumlah pendaftar, melainkan peningkatan angka kelulusan peserta program.
“Target akhirnya bukan banyaknya pendaftar atau peserta aktif belajar. Target utamanya adalah semakin banyak anak bertahan dan lulus,”
Layanan khusus dan pengakuan formal
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, menambahkan bahwa layanan kini harus mendatangi masyarakat untuk memastikan setiap anak menyelesaikan pendidikan, memperoleh pengakuan formal, dan memiliki kesempatan melanjutkan hidup yang lebih baik.
“Tujuan akhirnya bukan hanya sekadar meningkatkan APS. Melainkan, setiap anak bisa menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pengakuan secara formal, dan melanjutkan kehidupannya,”
Pelaksanaan dan cakupan
Peluncuran SPMB PJJ diiringi Deklarasi Nasional Gerakan Daerah Nol Anak Tidak Sekolah. Program ini direncanakan berjalan di 32 provinsi dengan pelibatan 132 sekolah sepanjang 2026 sebagai titik awal implementasi daerah.
Dengan fokus pada penjangkauan aktif, pendampingan, dan pengakuan formal, SPMB PJJ diharapkan menjadi jalan strategis untuk menurunkan jumlah anak tidak sekolah dan membuka akses pendidikan yang lebih inklusif ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Maulid Nabi 1448 H: Momentum Perkuat Kepedulian Sosial
Maulid Nabi 1448 H pada 25 Agustus 2026 dijadikan momentum untuk memperkuat kepedulian sosial dan meneladani...
Prabowo Jadikan PLTS 100 GWp Pilar Kemandirian Energi
Presiden Prabowo luncurkan Program PLTS 100 GWp di Bali sebagai langkah kemandirian energi, dipadukan dengan...
PU Kerahkan Pompa dan Air Tangani Karhutla di Kalteng & Malut
Kementerian PU mengerahkan pompa, personel, dan pasokan air untuk memadamkan karhutla di Kalimantan Tengah d...
Asap Karhutla Tebal, SDN 01 Sanggau Perpanjang PJJ
SDN 01 Sanggau memperpanjang PJJ hingga 28 Agustus karena kabut asap karhutla masih tebal; sekolah minta gur...
Daftar Proyek PLTS 100 GWp yang Diresmikan Presiden
Presiden meresmikan sejumlah proyek PLTS 100 GWp, dari Gilimanuk hingga pulau terpencil, mendukung elektrifi...
MenHAM Usulkan Pusat Komando Bencana NTT Dipindah ke Flores
MenHAM Natalius Pigai usulkan pusat komando tanggap darurat NTT dipindah ke Flores agar koordinasi dan distr...