DPRD Ngawi Minta Evaluasi SPMB 2026, Satu SD Negeri Nihil Pendaftar
Ngawi — DPRD Kabupaten Ngawi menyoroti beberapa Sekolah Dasar (SD) negeri yang gagal memenuhi kuota penerimaan peserta didik baru pada SPMB Tahun Ajaran 2026/2027. Kondisi ini terungkap setelah data menunjukkan penurunan jumlah pendaftar dan satu SD negeri yang tidak memperoleh murid baru sama sekali. Dewan meminta evaluasi cepat dan solusi agar tidak berulang di tahun berikutnya.
Rencana pemanggilan dan evaluasi
Komisi II DPRD Kabupaten Ngawi berencana memanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) melalui rapat dengar pendapat (RDP). Tujuannya meminta penjelasan sekaligus menyusun langkah perbaikan. Tri Suprih Wardoyo, anggota Komisi II, menekankan pentingnya tindakan cepat untuk menjaga keberlangsungan sekolah negeri.
"Kami akan memanggil Dinas Pendidikan untuk mengevaluasi pelaksanaan SPMB tahun ini sekaligus mencari solusi agar kondisi seperti ini tidak terus terjadi pada tahun-tahun berikutnya,"
— Tri Suprih Wardoyo, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Ngawi
Data pendaftaran dan sekolah terdampak
Berdasarkan data Dikbud Kabupaten Ngawi, jumlah peserta didik baru jenjang SD pada tahun ajaran 2026/2027 tercatat 7.255 siswa. Angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya yang hampir mencapai 7.320 siswa.
Dari total 502 sekolah dasar di Kabupaten Ngawi—terdiri atas 471 SD negeri dan 31 SD swasta—tercatat beberapa sekolah dengan penerimaan sangat minim.
| Sekolah | Kecamatan | Calon Murid Baru |
|---|---|---|
| SDN Rejomulyo 2 | Karangjati | 0 |
| SDN Tempuran 3 | — | 2 |
| SDN Patalan 4 | — | 2 |
| SDN Jagir 2 | — | 2 |
Secara rata-rata, jumlah siswa baru per sekolah berkisar 13–14 orang, namun distribusi tidak merata karena ada sekolah dengan lebih dari satu rombongan belajar, sementara yang lain hanya memperoleh beberapa murid.
Penyebab dan opsi solusi
Tri Suprih mendorong agar koordinator wilayah pendidikan, pengawas, dan kepala sekolah segera berinovasi untuk meningkatkan daya tarik SD negeri. Fokus inovasi meliputi kualitas pembelajaran, layanan pendidikan, serta program unggulan yang jelas bagi masyarakat.
"Kami mendorong Dinas Pendidikan melalui koordinator wilayah, pengawas, hingga kepala sekolah untuk melakukan inovasi di tingkat sekolah sehingga orang tua tertarik menyekolahkan anaknya di SD negeri,"
— Tri Suprih Wardoyo
Salah satu opsi yang akan dikaji jika penurunan berlanjut adalah regrouping atau penggabungan sekolah, agar pemanfaatan tenaga pendidik dan sumber daya menjadi lebih efektif.
Dampak dan langkah ke depan
Jika tren penurunan murid terus terjadi, pemerintah daerah perlu evaluasi menyeluruh termasuk pemetaan mutu dan ketersediaan layanan pendidikan. RDP yang direncanakan diharapkan menghasilkan rekomendasi teknis untuk meningkatkan pendaftaran dan memastikan layanan pendidikan tetap merata.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Ketua DPRD Minta Pemkot Malang Perketat Pengawasan Perusahaan soal BPJS
Ketua DPRD Malang minta Pemkot perketat pengawasan perusahaan soal kepesertaan BPJS setelah ada peserta nona...
Khitan Gratis di Magetan, PDI Perjuangan Gelar Layanan Rutin
DPC PDI Perjuangan, komunitas, dan Muhammadiyah Ngariboyo menggelar khitan gratis rutin setiap Jumat untuk m...
Soekarno Run Banyuwangi: Pelari Tampil dengan Kostum Beragam
Soekarno Run Banyuwangi 20 Sept 2026 menampilkan pelari dengan kostum adat, tokoh pewayangan, dan kreasi mod...
Anak Usia Dini Ikut Soekarno Run BWX 2026, Peserta Termuda 4 Tahun
Anak-anak ikut Soekarno Run BWX 2026 di Banyuwangi; peserta termuda 4 tahun dan kategori 1K jadi ruang penge...
Eri Cahyadi Tekankan Semangat Berdiri di Kaki Sendiri di Soekarno Run
Eri Cahyadi mengajak peserta Soekarno Run BWX 2026 menjadikan olahraga sebagai sarana membangun kemandirian,...
Romy Ajak Gen Z Kuasai Pengawasan Pemilu Jelang 2029
Romy Soekarno dorong Gen Z pahami pengawasan partisipatif jelang Pemilu 2029, waspadai hoaks, AI, dan politi...