Sofyan Tan Salurkan Bantuan dan PIP untuk SLB A Karya Murni
Medan, Sabtu (29/8) — Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, mengunjungi SLB A Karya Murni di Jalan Karya Wisata, Medan Johor. Kunjungan ini sekaligus meninjau kebutuhan sekolah dan menyalurkan bantuan langsung berupa lima kipas angin serta insentif guru.
Kunjungan dan bentuk bantuan
Sofyan menyatakan perhatian terhadap sekolah itu bukan kali ini saja. Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) sudah disalurkan bertahun-tahun kepada siswa SLB A Karya Murni, meski dirinya belum pernah hadir langsung sebelumnya.
Dari gajinya, Sofyan membeli lima kipas angin untuk sekolah. Ia juga memberikan insentif kepada 16 guru, masing-masing Rp500.000, sehingga total mencapai Rp8.000.000.
“Saya sejak awal sudah instruksikan SLB-SLB yang ada di dekat kami yang membutuhkan bantuan, dicarikan dan diberikan beasiswa PIP,”
“Angka lima mengingatkan pada Pancasila. Sedangkan angka delapan dipilih sebagai simbol garis yang tidak terputus. Mudah-mudahan hubungan antara kita semuanya tidak terputus,”
Kondisi operasional sekolah
Kepala SLB A Karya Murni, Suster Petriani br Saragih, menjelaskan sebagian besar operasional sekolah tetap mengandalkan donasi dan bantuan dari orang tua yang mampu. Kondisi ini membuat kebutuhan dasar sekolah sering bergantung pada kedermawanan pihak luar.
Suster Petriani menegaskan para guru bekerja ekstra untuk membimbing anak berkebutuhan khusus. Mereka melatih membaca, menulis, bergerak mandiri, menggunakan laptop, memasak, dan bermain musik agar siswa kelak bisa hidup mandiri.
“Supaya mereka nanti ada tempatnya untuk masa depan,”
Kisah siswa dan makna kunjungan
Di sela kunjungan muncul kisah-kisah mengharukan. Seorang anak pernah bertanya kepada Suster, “Boleh pinjam mata Suster?” karena ingin mengetahui warna bajunya. Cerita lain tentang Jojo, siswa tunanetra sekaligus autis, yang belum memahami kematian ibunya dan masih sering meminta menelepon mama.
Meski menghadapi keterbatasan, anak-anak tetap memegang mimpi. Dalam doa mereka terdengar harapan sederhana: “Ya Tuhan, semoga kami melihat.”.
Pesan dan konteks lebih luas
Sofyan menyampaikan penghormatan kepada guru yang bekerja bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati. Ia menilai kehadiran fisik penting untuk mendengar kebutuhan langsung, namun perhatian bisa hadir lebih awal melalui program seperti PIP.
“Cahaya itu ada di dalam hati, bukan di mata. Ada orang yang matanya terang, tapi hatinya tidak bercahaya,”
Kunjungan ini menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak memadamkan harapan. Bantuan reguler melalui PIP dan dukungan personal dapat memperkuat akses pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Ketua Dewan Dakwah Minta Dakwah Menyentuh Pelosok Aceh Tamiang
Ketua Dewan Dakwah Aceh minta pengurus Aceh Tamiang perluas dakwah ke pelosok pada pelantikan pengurus 2026–...
Tgk Abimaulana Ingatkan Sunnah Wudhu di Masjid Al Falah
Tgk Abimaulana mengingatkan jamaah Masjid Al Falah agar tidak meremehkan sunnah wudhu; amalan kecil berpoten...
Bapenda Medan Klarifikasi BPHTB, NPOPTKP, dan PTSL
Bapenda Medan jelaskan mekanisme BPHTB, tindak lanjut temuan BPK, dan hubungan PTSL dengan kewajiban pajak u...
Disdikbud Medan Tanggapi Temuan BPK: Aset Sekolah Rp12,24 Miliar Hilang
Disdikbud Medan sebut aset sekolah senilai Rp12,24 miliar yang dinyatakan hilang diduga tindakan oknum; Insp...
Kenduri Diraja Sultan Deli XIV Digelar Khidmat di Medan
Kenduri Diraja Sultan Deli XIV digelar khidmat di Medan Sabtu (29/8), menegaskan peran ritual dalam pelestar...
Sumut Targetkan 6.000 Sertifikat Tanah Wakaf Tahun Ini
Sumut menandatangani MoU percepatan sertifikasi tanah wakaf (27/8) untuk menambah 6.000 sertifikat dari 14.6...