Misbakhun: Sinergi Kebijakan Kunci Capai 6% pada 2027
Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI, menegaskan sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil menjadi kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027. Pernyataan itu disampaikan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026, saat membahas langkah konsolidasi kebijakan untuk mendukung target tersebut.
Sinergi kebijakan sebagai pendorong utama
Misbakhun menilai pertumbuhan tidak bisa hanya bergantung pada satu instrumen kebijakan. Menurutnya, kombinasi kebijakan fiskal dan moneter serta dukungan sektor riil harus berjalan serentak agar hasilnya optimal.
"Dorongan ke pertumbuhan, bagaimana likuiditas di pasar bisa tersedia, kemudian sektor riil bisa tumbuh. Dan kemudian terjadi ekspansi kredit di perbankan,"
Ia menekankan pentingnya ketersediaan likuiditas di pasar dan perluasan kredit perbankan agar kegiatan usaha di sektor riil bisa meningkat. Tanpa aliran modal dan kredit yang memadai, stimulus fiskal sulit menerjemah ke pertumbuhan nyata.
Keseimbangan antara target dan disiplin fiskal
Misbakhun juga mengingatkan bahwa upaya mendorong pertumbuhan harus tetap menjaga disiplin anggaran. Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar 2,40 persen terhadap PDB, angka yang menurutnya harus dijaga sebagai bagian dari keberlanjutan fiskal.
Menurut dia, sinyal target 6 persen memberikan optimisme pasar. Namun optimisme itu hanya berguna bila diikuti kerja keras dan konsolidasi antara pemerintah, otoritas moneter, pelaku usaha, dan lembaga keuangan.
"Tentunya target ini adalah sebuah pesan yang kuat kepada pasar untuk sama-sama kita optimistis, membangun optimisme secara bersama-sama. Dan ini butuh kerja keras dan konsolidasi,"
Konsekuensi bagi pelaku kebijakan dan pasar
Target Presiden yang menyasar 6 persen pada 2027 naik dari target APBN 2026 sebesar 5,4 persen. Kenaikan target ini memaksa koordinasi lebih ketat antar kementerian dan otoritas terkait.
Secara praktis, pemerintah dan Bank Indonesia perlu menyelaraskan kebijakan suku bunga, likuiditas, dan insentif fiskal agar kredit mengalir ke sektor produktif. Sementara itu pelaku usaha harus meningkatkan kapasitas investasi untuk menyerap kredit tersebut.
Prospek dan langkah ke depan
Capai target 6 persen bukan sekadar angka politik. Prosesnya membutuhkan kebijakan terintegrasi, implementasi yang konsisten, dan pengawasan anggaran yang ketat. Jika semua pihak berkoordinasi, peluang mencapai target akan meningkat secara substansial.
Catatan ini menjadi bahan evaluasi bagi pembuat kebijakan menjelang penyusunan dan pelaksanaan RAPBN 2027, sambil menjaga stabilitas ekonomi jangka menengah.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan 10 Program Transformasi Nasional 2027
Pemerintah meluncurkan 10 program besar transformasi nasional untuk meningkatkan layanan kesehatan, pendidik...
Arjan Soroti Warisan Multatuli di Lebak dalam Buku Baru
Arjan Onderdenwijngaard meluncurkan buku yang menelaah perubahan sosial Lebak dan relevansi pemikiran Multat...
Shoim Haris: Pancasila Produk Pemikiran Terbaik Abad ke-20
Shoim Haris menyebut Pancasila produk pemikiran paling brilian abad ke-20 dan menyerukan penguatan nilai unt...
Komisi VIII: Sekolah Rakyat Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan
Komisi VIII DPR menilai Sekolah Rakyat, termasuk 93 sekolah permanen, dapat memutus rantai kemiskinan dengan...
OJK Siapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Mulai 2027
OJK finalisasi aturan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) untuk operasional 1 Januari 2027 guna cip...
Fadli Zon Dorong Aksara Nusantara sebagai Media Edukasi Anak Muda
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong pengembangan Aksara Nusantara sebagai media edukasi untuk memperkenal...