Rupiah Melemah ke Rp17.843 per Dolar, Tekanan Geopolitik dan Inflasi
Rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin, 22 Juni 2026, turun 0,22% ke posisi Rp17.843 per dolar AS. Pelemahan dipicu penguatan dolar setelah pernyataan Presiden AS yang menimbulkan ketegangan geopolitik, serta kekhawatiran pasar terhadap prospek inflasi domestik.
Dolar AS Menguat Usai Pernyataan Presiden AS
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pernyataan Presiden AS soal kemungkinan tindakan militer terhadap Iran sebagai pemicu penguatan dolar dan tekanan pada mata uang negara berkembang. Ia mengatakan sentimen pasar terguncang setelah ancaman tersebut, yang juga mempengaruhi negosiasi diplomatik antara AS dan Iran di Swiss.
Sentimen pasar terguncang setelah Presiden Trump mengancam serangan militer terhadap Iran,
Menurut laporan, delegasi Iran sempat melakukan walk-out ketika mendengar ancaman itu, meski putaran pertama negosiasi akhirnya tetap diselesaikan dan dijadwalkan berlanjut dalam pekan mendatang.
Pelaku Pasar Juga Menunggu Data Ekonomi
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar menanti rilis ekonomi penting seperti angka Produk Domestik Bruto kuartal I 2026 dan data Indeks Harga Pengeluaran Pribadi (PCE) inti AS. Data tersebut dianggap kunci untuk membaca arah suku bunga The Fed, yang berpengaruh pada penguatan dolar global.
Risiko Inflasi Domestik: BBM dan Cuaca
Ibrahim mengingatkan tekanan inflasi domestik dari beberapa sisi. Kenaikan harga BBM non-subsidi berisiko memicu imported inflation lewat efek berantai pada harga barang dan biaya produksi. Di sisi lain, fenomena cuaca seperti El Nino berpotensi mendorong volatilitas harga pangan.
El Nino diperkirakan terjadi pada Juni hingga Oktober atau November, karena itu faktor cuaca ini perlu diwaspadai,
Langkah Pengendalian Harga
Bank Indonesia, yang memiliki mandat pengendalian inflasi, menyatakan akan bersinergi dengan pemangku kepentingan lain untuk menjaga stabilitas harga. Menurut Ibrahim, upaya ini termasuk koordinasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta tim pengendalian inflasi di pusat dan daerah.
Misalnya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan. Gerakan ini dikoordinasikan dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah,
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan risiko domestik, pasar diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data inflasi dalam beberapa pekan ke depan. Investor dan pembuat kebijakan diperkirakan akan memantau rilis data serta lanjutan pembicaraan AS-Iran yang berpotensi mengubah sentimen pasar global.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...
Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Waspada Saat Beli
Harga emas dunia diperkirakan berfluktuasi tajam pekan depan karena pengaruh indeks dolar AS dan harga minya...
Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu
Kemenperin sebut Indonesia kuasai 0,9% pasar ekspor bambu global; AKB 2026 digelar untuk perkuat pasokan dan...