Ekonomi

Rupiah Naik Tipis ke Rp17.903 di Tengah Tekanan Global

Bagikan:
Layar kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar valuta asing

Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada akhir pekan, terdorong oleh dinamika geopolitik dan data ekonomi internasional. Pada penutupan perdagangan hari Jumat, rupiah naik 0,07% atau 13 poin ke posisi Rp17.903 per dolar AS.

Pengaruh negosiasi dan ketegangan regional

Analis pasar menilai sentimen global menjadi penentu utama pergerakan rupiah hari ini. Salah satu faktor adalah upaya diplomatik AS untuk menjajaki pembukaan kembali alur pelayaran di Selat Hormuz dengan Iran.

"Upaya AS disertai janji akan mengakhiri blokade ekonomi terhadap Iran. Namun Presiden Iran Pezeshkian mengatakan, kapan konflik berakhir sepenuhnya bergantung pada sikap AS,"

Gencatan dagang AS-Tiongkok dan pertemuan puncak

Negosiasi dagang antara Washington dan Beijing juga mempersempit risiko pasar. Pemerintah AS dan Tiongkok sepakat memperpanjang gencatan dagang hingga 10 Januari 2027, memberi waktu lebih bagi pembicaraan lanjutan.

"Presiden Trump akhirnya menjamu pemimpin Tiongkok Xi Jinping dalam sebuah jamuan makan malam kenegaraan. Ini adalah kunjungan pertama Xi ke Washington dalam lebih dari satu dekade,"

Sinyal The Fed dan data ekonomi AS

Prospek kebijakan moneter AS turut menambah volatilitas. Sejumlah pejabat Federal Reserve memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut sebelum akhir tahun untuk menekan inflasi kembali ke target 2%.

Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, mengisyaratkan kenaikan suku bunga tambahan. Sementara itu, Presiden The Fed wilayah Cleveland, Beth Hammack, memperingatkan laju inflasi yang semakin tinggi dan sulit dikembalikan ke target.

Dari sisi data, indeks manufaktur S&P Global PMI AS naik tak terduga ke 58,4, yang dikatakan sebagai kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Klaim awal tunjangan pengangguran juga turun menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 19 September 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Respons kebijakan domestik

Di dalam negeri, otoritas fiskal dan moneter memperkuat koordinasi untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan meningkatkan kolaborasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar dan merespons risiko eksternal.

Prospek ke depan

Pergerakan rupiah ke depan akan tetap dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter global, dan data ekonomi AS. Jika ketegangan mereda dan gencatan dagang memperkuat ekspektasi stabilitas global, tekanan pada rupiah bisa berkurang. Namun, sinyal kenaikan suku bunga The Fed dan inflasi yang masih tinggi berpotensi menambah volatilitas pasar mata uang.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait