Hiburan

Rahayu Saraswati Angkat Suara Keluarga Korban lewat Monolog

Bagikan:
Rahayu Saraswati membawakan monolog tentang keluarga korban perdagangan orang di TIM

Rahayu Saraswati menonjolkan suara keluarga korban perdagangan orang melalui monolog perdananya berjudul "Kalau Bukan Aku", yang dipentaskan pada Monoplay Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat, 25 September 2026. Pementasan ini dimaksudkan untuk memperlihatkan dampak psikologis dan sosial pada keluarga yang sering tidak terdengar.

Monolog "Kalau Bukan Aku" di Monoplay Festival

Pentas monolog itu menjadi debut penulisan sekaligus peran langsung bagi Saraswati. Pertunjukan menghadirkan narasi dari sudut pandang keluarga korban untuk membuka mata penonton terhadap dunia gelap perdagangan orang.

Suara yang Selama Ini Terbungkam

Saraswati, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Tindak Pidana Perdagangan Orang (Jarnas TPPO) dan Wakil Ketua Komisi VII, mengatakan pemberitaan selama ini lebih fokus pada kasus itu sendiri, sementara pengalaman keluarga yang ditinggalkan jarang terdengar.

“Saya menulis naskah ini menuangkan apa yang ada di dalam benak sebagai aktivis anti perdagangan orang sejak tahun 2009. Menyuarakan suara yang hampir gak pernah kita dengar, yaitu keluarga korban,”

Ia menyoroti bagaimana keluarga sering menanggung luka dan trauma, bahkan kerap dipandang sebagai aib.

“Tapi bagaimana suara dari mereka yang ditinggalkan?. Mereka yang harus tinggal dengan luka dan trauma di mana kadang-kadang keluarga korban malah dianggap aib,”

Proses Penulisan dan Riset

Saraswati menjelaskan naskah ditulis dan diselesaikan dalam kurun sekitar enam bulan, dari Maret hingga awal September 2026. Proses itu meliputi penulisan, penyuntingan, dan revisi berulang.

“Jadi kalau bicara riset sih karena memang sudah merupakan makanan kita sehari-hari untuk mendampingi korban dan keluarga korban,”

Riset naskah bersandar pada pengalaman langsung mendampingi korban dan keluarga selama bertahun-tahun, sehingga materi panggung berakar dari kisah nyata yang pernah ditemui.

Tantangan Pertunjukan dan Harapan

Salah satu kendala terbesar adalah durasi monolog yang mencapai satu setengah jam. Saraswati mengatakan tantangan terbesar adalah menghafal naskah dan menjaga fokus penonton sepanjang pertunjukan.

“Tantangan terbesar adalah menghafal naskah sepanjang satu setengah jam. Jujur itu paling menantang,”

Di sisi lain, ia berharap penonton tidak sekadar terhibur, melainkan juga tergerak untuk memberi ruang bagi korban dan keluarga mereka.

“Semoga semua yang mendapatkan pesan bahwa perdagangan orang itu nyata, bahwa korban itu layak didengar, apalagi keluarganya juga. Mereka harus diberikan ruang untuk didengar dan kita harus hadir untuk mereka dan memperjuangkan masa depan mereka,”

Dengan pendekatan seni pertunjukan, Saraswati berharap monolog ini menjadi medium untuk memperjuangkan hak dan pemulihan psikologis keluarga korban, sekaligus mendorong perhatian publik terhadap isu perdagangan orang.

Tiara Permata
Penulis
Tiara Permata

Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.

Berita Terkait