IHSG Anjlok 76 Poin ke 6.298 pada Penutupan 24 Sep 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.298,60 pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, anjlok 76,3 poin (1,20%) dari penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di Bursa Efek Indonesia lantaran sentimen global dan arus keluar modal yang menekan pasar.
Ringkasan perdagangan
IHSG membuka sesi pada level 6.364,97 dan bergerak dalam rentang 6.287,45—6.368,57 selama hari itu. Tekanan jual tercermin dari jumlah saham yang melemah, yakni 462 saham turun, sementara 188 saham menguat dan 144 stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp10,763 triliun, dengan volume perdagangan sebesar 28,877 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1.641.308 kali.
Faktor pendorong dan risiko pasar
Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan pasar masih dibayangi risiko eksternal yang tinggi. Mereka menunjuk pada kenaikan imbal hasil obligasi global, fluktuasi harga minyak, serta ketegangan geopolitik sebagai pemicu utama volatilitas.
“Ancaman global seperti kenaikan suku bunga dunia, ketidakpastian harga minyak, dan masalah geopolitik masih menghantui investor,”
Di samping faktor eksternal, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan pada September 2026 turut menjadi perhatian, meski belum cukup menenangkan sentimen. Tim Pilarmas menilai kondisi ekonomi domestik juga menghadapi tantangan, termasuk perlambatan pertumbuhan dan lemahnya belanja masyarakat.
“Rupiah terus dibayangi risiko melemah akibat penguatan dolar AS serta keluarnya dana investor asing,”
Saham penguat dan pelemah
Sejumlah saham mampu menguat lebih tajam meski IHSG melemah. Di sisi lain, beberapa emiten mencatat penurunan signifikan.
- Saham penguat utama: UNSP, BIPP, FORU, ASLI, SDMU
- Saham pelemah utama: SAFE, NASI, MNCN, BMTR, MSIN
Prospek dan implikasi
Penurunan IHSG ke bawah level 6.300 menandakan sentimen hati-hati di kalangan investor. Jika tekanan global berlanjut dan arus modal keluar meningkat, pasar berisiko melanjutkan koreksi. Sebaliknya, stabilisasi imbal hasil global dan penguatan permintaan domestik dapat membantu pemulihan.
Pelaku pasar akan memantau data ekonomi berikutnya serta kebijakan moneter global dan domestik sebagai indikator arah pasar jangka pendek. Investor disarankan menilai eksposur risiko dan memprioritaskan portofolio yang lebih defensif sampai volatilitas mereda.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp25.000 per Gram, Ini Daftarnya
Harga emas Antam turun Rp25.000/gram pada 24 Sept 2026; harga 1 gram kini Rp2.605.000, simak daftar lengkap...
IHSG Berisiko Terkoreksi, Uji Level 6.300 Hari Ini
IHSG berisiko terkoreksi ke level 6.300 hari ini setelah penguatan 1,56%; Phintraco soroti keputusan BI dan...
ADB: Pertumbuhan Ekonomi Asia Berkembang Diproyeksi Melambat 2026
ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia yang sedang berkembang dan Pasifik melambat ke 5% pada 2026, dis...
BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat ke Rp17.818/US$
BI pertahankan suku bunga 5,75% dan rupiah menguat 0,37% ke Rp17.818 pada 23 September 2025, didukung penyel...
Baru Sebulan, KKI Terbit 32.457 Kartu dan Catat Transaksi Rp18,7 Miliar
Dalam sebulan KKI terbit 32.457 kartu dan catat 38,8 ribu transaksi senilai Rp18,7 miliar; 8 bank sudah mene...
KAI Layani 351 Juta Pelanggan dan Percepat Transportasi Hijau
KAI melayani 351,6 juta penumpang Jan–Agu 2026 dan mempercepat transisi hijau lewat PLTS serta penerapan Bio...