Ekonomi

ADB: Pertumbuhan Ekonomi Asia Berkembang Diproyeksi Melambat 2026

Bagikan:
Logo ADB dan grafik proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia 2026

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia yang sedang berkembang dan Pasifik akan melambat menjadi 5 persen pada 2026. Proyeksi ini tertuang dalam Asian Development Outlook (ADO) September 2026 yang dirilis pada Rabu, 23 September 2026, dan menyoroti beberapa risiko utama yang dapat menekan pertumbuhan serta memicu kenaikan harga.

Perkiraan pertumbuhan dan inflasi 2026

ADB merevisi perkiraan pertumbuhan kawasan turun dari 5,5 persen pada 2025 menjadi 5 persen tahun ini. Meski melambat, lembaga itu menilai perekonomian regional masih menunjukkan daya tahan. Di sisi inflasi, ADB juga menurunkan proyeksi untuk 2026 dari 4,3 persen menjadi 4,2 persen, seiring langkah stabilisasi harga yang diambil beberapa pemerintah.

Faktor risiko utama

Dalam laporannya, ADB mencatat sejumlah risiko yang menekan prospek ekonomi. Risiko utama meliputi:

  • Penguatan El Niño yang menyebabkan cuaca lebih kering dan mengurangi hasil panen;
  • Gangguan pasokan energi, termasuk turunnya produksi listrik tenaga air;
  • Ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah;
  • Potensi koreksi tajam pada valuasi saham berbasis kecerdasan buatan (AI);
  • Pengetatan kondisi keuangan dan ketidakpastian kebijakan perdagangan.

"Kawasan ini tetap tangguh, namun risikonya semakin meningkat,"

"El Niño yang semakin menguat disertai kondisi yang lebih kering menyebabkan hasil panen yang lebih sedikit. Selain itu, produksi listrik tenaga air juga berkurang,"

Kutipan di atas disampaikan oleh Presiden ADB, Masato Kanda.

Dampak terhadap masyarakat dan rekomendasi kebijakan

ADB memperingatkan bahwa kenaikan harga pangan dan energi akan paling membebani kelompok rentan. Tekanan ini menuntut langkah proaktif pemerintah untuk melindungi masyarakat melalui kebijakan fiskal dan program bantuan yang tepat sasaran.

Selain perlindungan sosial, ADB menyoroti peran investasi dan inovasi sebagai penopang pertumbuhan. Menurut laporan, investasi yang kuat, stimulus fiskal terarah, dan ekspor produk berbasis AI dapat membantu mempertahankan momentum ekonomi, meski menghadapi guncangan eksternal.

Prospek regional: Asia Tenggara

Jika ditinjau secara regional, ADB memproyeksikan kawasan Asia Tenggara yang sedang berkembang akan tumbuh lebih baik. Pertumbuhan diperkirakan mencapai 4,7 persen pada 2026 dan 4,9 persen pada 2027, naik dari proyeksi sebelumnya.

Secara keseluruhan, ADO September 2026 menekankan perlunya kombinasi kebijakan makroekonomi yang hati-hati dan langkah-langkah pendukung struktural. Tujuannya adalah meredam dampak risiko global sambil memperkuat pemulihan dan inklusivitas jangka panjang.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait