Ekonomi

BAZNAS Kembangkan Usaha Tempe Mustahik, Omzet Rp550 Ribu/Hari

Bagikan:
Pengusaha tempe di Desa Rejosari, Demak, menerima bantuan program BAZNAS Microfinance

BAZNAS melalui Program BAZNAS Microfinance Desa (BMD) berhasil mengembangkan usaha tempe milik Nadriyatul, mustahik di Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Usaha kini menghasilkan omzet sekitar Rp550 ribu per hari, setelah mendapat modal tanpa bunga, pelatihan, dan pendampingan.

Program BAZNAS Microfinance Desa

Program BMD menyalurkan bantuan modal usaha tanpa bunga dan memberikan pendampingan agar bisnis mustahik berkelanjutan. Pimpinan Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan BAZNAS RI, Idy Muzayyad, menyatakan capaian ini menunjukkan dampak nyata pemberdayaan ekonomi.

"Alhamdulillah, inilah tujuan Program BAZNAS Microfinance, yakni mendorong kemandirian mustahik dengan menyalurkan bantuan modal usaha tanpa bunga. Program BMD juga menghadirkan pelatihan dan pendampingan agar usaha yang dikelola mustahik dapat terus berkelanjutan,"

Idy menambahkan, BAZNAS mengubah proporsi distribusi dan pemberdayaan dari sebelumnya 70:30 menjadi 50:50. Langkah ini dimaksudkan agar pemanfaatan dana lebih fokus pada pemberdayaan ekonomi jangka panjang.

"BAZNAS akan terus mengoptimalkan pemanfaatan ZIS untuk kesejahteraan umat, termasuk melalui program pemberdayaan ekonomi BMD di seluruh daerah Indonesia. Dengan demikian, semakin banyak mustahik yang membutuhkan bantuan dapat dijangkau,"

Perkembangan Usaha dan Produksi

Nadriyatul menyampaikan perkembangan signifikan setelah mendapat dukungan BMD. Produksi tempe meningkat menjadi sekitar 25 kilogram kedelai per hari, sehingga kapasitas penjualan dan distribusi turut naik.

Ia juga menekankan kualitas produksi sebagai kunci daya saing. Menurut Nadriyatul, sekitar 90 persen kulit kedelai terlepas saat proses pembuatan, membuat tempe lebih tahan lama tanpa bahan pengawet.

"Alhamdulillah, omzet sekitar Rp550 ribu per hari. Untuk penjualannya, saya mengandalkan pelanggan tetap di Desa Rejosari dan juga menitipkannya di sejumlah warung di sekitar desa untuk memperluas pemasaran,"

Dampak dan Prospek

Peningkatan omzet dan produksi menunjukkan program pemberdayaan ekonomi dapat mendorong kemandirian mustahik. Dengan model modal tanpa bunga, pelatihan, dan pendampingan, pengusaha kecil seperti Nadriyatul mampu memperkuat rantai pasok lokal.

Ke depan, BAZNAS menargetkan perluasan program BMD ke lebih banyak desa. Target ini diharapkan memperluas jangkauan bantuan dan meningkatkan kualitas hidup mustahik di berbagai wilayah.

Catatan: Program ini menjadi contoh bagaimana kombinasi modal, pelatihan, dan pendampingan dapat meningkatkan produktivitas usaha mikro secara berkelanjutan.

Rafi Akbar
Penulis
Rafi Akbar

Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.

Berita Terkait