Prabowo Minta Penyelesaian IEU-CEPA Dikebut, Target Implementasi Awal 2027
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dipercepat agar dokumen segera masuk ke tahapan pembahasan dan ratifikasi. Instruksi itu disampaikan menjelang kunjungan pejabat Uni Eropa yang direncanakan akhir Oktober atau awal November 2026.
Perintah penyelesaian dokumen
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perintah Presiden menekankan agar kelengkapan dokumen IEU-CEPA segera final. Dokumen perlu ditata dalam Bahasa Inggris untuk dibawa ke Parlemen Eropa.
"Bapak Presiden juga minta agar EU-CEPA itu segera diselesaikan."
Tahapan ratifikasi dan terjemahan
Airlangga menjelaskan setelah dokumen lengkap, perjanjian akan masuk proses ratifikasi di Dewan Perwakilan Rakyat sesuai mekanisme yang berlaku. Versi final yang disiapkan di tingkat pemerintah akan dikirim ke parlemen untuk pembahasan lebih lanjut.
"Dari situ baru kita dalam versi kita untuk dibawa ke parlemen untuk ratifikasi,"
Jadwal kunjungan Uni Eropa
Pemerintah menyampaikan ada rencana kunjungan Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Uni Eropa, Maroš Šefčovič, ke Indonesia. Selain itu, pimpinan Uni Eropa juga diharapkan datang akhir Oktober atau awal November 2026.
"Memang dalam IEU-CEPA itu sendiri ada rencana daripada Komisaris Maroš untuk datang ke Indonesia. Kemudian juga ada rencana dari Presiden IEU untuk datang ke Indonesia di akhir Oktober ataupun awal November," katanya.
Tekanan waktu: GSP berakhir akhir 2026
Pemerintah menilai percepatan penyelesaian penting karena fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) Uni Eropa bagi Indonesia akan berakhir pada akhir 2026. Jika proses ratifikasi berjalan cepat, implementasi IEU-CEPA bisa dimulai awal 2027.
Merujuk pada praktik dalam perjanjian Uni Eropa-Meksiko, proses ratifikasi tercepat dapat berlangsung sekitar 90 hari. Dengan acuan tersebut, optimisme pemerintah tinggi agar kesepakatan dapat berlaku pada awal 2027.
Upaya pemerintah menuntaskan hambatan
Presiden juga menugaskan pembentukan tim de-bottlenecking di bawah koordinasi Kemenko Perekonomian. Tim ini bertugas mengidentifikasi dan menangani kendala yang dihadapi pelaku usaha agar manfaat perjanjian dapat segera dirasakan.
Dengan kunjungan delegasi Uni Eropa yang mendekat dan tenggat GSP, pemerintah mempercepat koordinasi internal. Langkah selanjutnya adalah finalisasi dokumen, penerjemahan, dan pengajuan ke parlemen masing-masing pihak untuk proses ratifikasi.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
KAI Layani 351,6 Juta Pelanggan Hingga Agustus 2026
KAI Group melayani 351,6 juta pelanggan hingga Agustus 2026, naik 7,09%; KAI Commuter menyumbang 277,3 juta...
KAI dan KCIC Ajak 607 Anak Panti Naik Kereta Cepat Whoosh
KAI bersama KCIC mengajak 607 anak panti asuhan naik kereta cepat Whoosh pada 22 September 2026 sebagai bagi...
PT GUT Perkuat Peran di Proyek Kelistrikan Nasional
PT GUT perkuat peran sebagai EPC dalam proyek transmisi dan pembangkit geothermal, hadir di Electricity Conn...
Menkeu dan Mentan Nyatakan Perang terhadap Impor Beras Ilegal
Menkeu dan Mentan menyatakan perang terhadap impor beras ilegal per 22 September 2026; penindakan Bea Cukai...
Rupiah Melemah ke Rp17.884 per Dolar, Dipicu Geopolitik & The Fed
Rupiah ditutup melemah 0,21% ke Rp17.884 per dolar pada 22 Sept 2026 akibat gejolak geopolitik dan ekspektas...
IHSG Anjlok 1,69% ke 6.277,04, BEI Ubah Batas Harga Saham
IHSG anjlok 107,68 poin ke 6.277,04 pada 22 Sept 2026; transaksi tinggi dan BEI menurunkan batas harga saham...