Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.884 per Dolar, Dipicu Geopolitik & The Fed

Bagikan:

Rupiah ditutup melemah 0,21 persen atau 37 poin ke posisi Rp17.884 per dolar AS pada Selasa, 22 September 2026. Pelemahan ini dipicu oleh tekanan geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga di AS, sementara pasar menanti keputusan Bank Indonesia.

Penutupan dan angka penting

Data pasar menunjukkan penurunan nilai tukar yang moderat namun konsisten sepanjang hari. Sentimen global yang menguatkan dolar AS dan mengerek imbal hasil obligasi menjadi penyebab utama keluarnya modal dari aset berdenominasi rupiah.

Tekanan geopolitik

Konflik antara AS dan Iran serta serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi tetap menjadi faktor dominan. Pernyataan terkait kemungkinan dialog antara pemimpin AS dan Iran memunculkan harapan meredanya ketegangan, yang sempat menekan harga minyak.

Di sisi lain, dukungan internasional terhadap Arab Saudi relatif terbatas. Inggris menyatakan dukungan, sementara AS dilaporkan memilih tidak turun tangan langsung, sehingga ketidakpastian regional tetap tinggi.

Pertemuan pemimpin dunia dan permintaan minyak

Pelaku pasar juga mengamati rencana pertemuan Presiden AS dan Presiden Tiongkok akhir pekan ini. Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas isu perdagangan dan kondisi geopolitik yang berdampak pada permintaan minyak.

Tiongkok sebagai importir minyak terbesar dunia membuat prospek ekonomi dan kebijakannya menjadi perhatian karena berpengaruh pada harga minyak dan arus perdagangan global.

Ekspektasi suku bunga The Fed

Ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan dari Federal Reserve menambah tekanan pada mata uang negara berkembang. Sejumlah pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sekali lagi pada bulan Oktober.

"Pasar memperhitungkan kemungkinan akan adanya kenaikan suku bunga satu kali lagi di bulan Oktober mendatang,"

Peningkatan suku bunga AS cenderung menguatkan dolar dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, sehingga kapital keluar dari pasar yang dinilai lebih berisiko.

Respons Bank Indonesia dan isu fiskal domestik

Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang digelar Rabu siang, 23 September 2026. Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk hadir di pasar demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Selain itu, perhatian tertuju pada perdebatan revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 yang berpotensi memengaruhi batas defisit anggaran. Perdebatan ini muncul seiring besarnya anggaran program sosial pemerintah.

"Pernyataan Presiden Trump bersedia bertemu Presiden Iran memunculkan harapan akan meredanya ketegangan di Timur Tengah,"

"Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa pembahasan mengenai batas atas defisit 3 persen harus dilaksanakan secara konstruktif. Pengelolaan APBN juga akan melaksanakan batas rasio utang 60 persen dari PDB,"

Langkah BI dan kebijakan fiskal ke depan menjadi penentu utama apakah tekanan pada rupiah bersifat sementara atau berlanjut. Pelaku pasar kini mengombinasikan data global dan domestik untuk menentukan posisi investasi dalam beberapa minggu mendatang.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait