Ekonomi

Rupiah Merosot ke Rp17.847 per Dolar, Tekanan Geopolitik Dorong Dolar

Bagikan:
Grafik pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke level Rp17.847

Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan hari ini, ditutup di level Rp17.847 per dolar AS atau turun sekitar 0,50 persen (89 poin). Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya dolar AS akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pengaruh konflik Timur Tengah

Gejolak di kawasan menjadi pemicu utama penguatan dolar sebagai aset aman. Ketidakpastian terkait konflik antara AS dan Iran serta serangan kelompok Houthi ke sejumlah titik di Arab Saudi mempertajam sentimen risiko global.

Serangan Houthi yang menyasar jalur pipa Timur-Barat milik perusahaan energi Saudi mendorong pengalihan rute ekspor melalui Selat Hormuz, meski kawasan itu sendiri dilaporkan hampir mengalami pembatasan lalu lintas akibat ketegangan regional.

"Presiden Donald Trump menyatakan kesediaannya bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Masoud dijadwalkan berada di New York minggu ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Senin, 21 September 2026.

Sentimen The Fed dan kebijakan moneter global

Selain risiko geopolitik, pasar juga memonitor pernyataan pejabat The Fed yang dijadwalkan menyampaikan pidato. Pernyataan tersebut dipandang dapat memberi isyarat mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober.

"Pernyataan mereka dapat memberikan petunjuk baru mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan bulan Oktober," ucap Ibrahim.

Faktor domestik: Bank Indonesia di sorotan

Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar dalam beberapa hari. Keputusan BI akan dinilai berkaitan erat dengan dinamika inflasi dan tekanan nilai tukar.

"Pasar akan mencermati keputusan Bank Indonesia di tengah dinamika inflasi dan nilai tukar rupiah. Termasuk dinamika kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi," ucap Ibrahim.

Ibrahim mengamati adanya perbedaan sikap di antara bank sentral global: sebagian memilih kebijakan hawkish, sementara lainnya masih menyediakan ruang pelonggaran. Namun, ia menilai tekanan inflasi global membuka kemungkinan langkah pengetatan di dalam negeri.

"Namun melihat situasi inflasi global yang tinggi. Kemungkinan gubernur Bank Indonesia akan menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin," kata Ibrahim menutup analisisnya.

Prospek jangka pendek menunjukkan volatilitas nilai tukar masih tinggi. Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik, pidato pejabat moneter global, dan keputusan kebijakan Bank Indonesia sebagai penentu arah rupiah ke depan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait