Ekonomi

IHSG Menguat 1,56% ke 6.374,91 pada Penutupan 23 Sept 2026

Bagikan:
Grafik kenaikan IHSG 1,56 persen pada penutupan 23 September 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,56 persen atau 97,87 poin pada Rabu, 23 September 2026, ke level 6.374,91. Kenaikan terjadi seiring mayoritas bursa Asia yang merespons meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sentimen positif dari kebijakan domestik.

Pergerakan pasar dan data perdagangan

IHSG dibuka pada 6.297,95 dan bergerak di zona hijau sepanjang sesi, menyentuh puncak 6.380,16 serta terendah intraday 6.253,73. Aktivitas investor tercermin dari nilai transaksi yang cukup tinggi.

Indikator Angka
Penutupan 6.374,91
Pembukaan 6.297,95
Tertinggi 6.380,16
Terendah 6.253,73
Nilai transaksi Rp12,570 triliun
Volume 36,179 miliar saham
Saham naik/turun/stagnan 448 / 186 / 159

Sentimen global mendorong reli

Menurut Tim Pilarmas Investindo Sekuritas, penguatan IHSG mengikuti mayoritas bursa Asia yang merespons positif perkembangan geopolitik Timur Tengah. Pasar menilai pertemuan pejabat Amerika Serikat dengan utusan Iran memberikan sinyal meredanya ketegangan.

Rencana pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi katalis tambahan. Kondisi ini ikut menekan harga minyak dunia sehingga memberi ruang bagi pasar saham untuk menguat.

Isu perdagangan dan kebijakan moneter internasional

Pelaku pasar juga mencermati rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang dianggap dapat memengaruhi prospek gencatan senjata perdagangan dan ekonomi global.

Dari sisi moneter, pasar memantau arah kebijakan The Fed. Beberapa pejabat The Fed menyampaikan pandangan hawkish, dan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober 2026 tercatat sekitar 54 persen.

Kebijakan domestik dan penilaian IMF

Di dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen, sejalan dengan perkiraan pasar. Pilarmas menilai keputusan ini membantu menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memberi ruang pertumbuhan ekonomi.

"Kebijakan ini menyeimbangkan stabilitas mata uang dengan pertumbuhan domestik di tengah meningkatnya tekanan makro global. BI bahkan sudah mengantispasinya sejak jauh-jauh hari."

Sentimen positif tambahan datang dari penilaian Dana Moneter Internasional (IMF) yang memproyeksikan ketahanan fiskal Indonesia dengan rasio utang terhadap PDB sekitar 29,7 persen pada 2026. IMF juga menyorot rendahnya risiko jatuh tempo utang sebagai faktor pendukung persepsi positif terhadap ekonomi domestik.

Implikasi ke depan

Dengan tekanan geopolitik yang mereda dan kebijakan domestik yang stabil, pasar saham Indonesia berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Namun, investor tetap diminta berhati-hati mengingat ketidakpastian kebijakan moneter global dan perkembangan geopolitik yang bisa berubah cepat.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait