Jelang Pengumuman BI Rate, Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.819
Nilai tukar rupiah berbalik menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, 23 September 2026, menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Mengacu data Bloomberg, rupiah menguat 0,36 persen atau 65 poin ke posisi Rp17.819 per dolar AS setelah penutupan sebelumnya di Rp17.884.
Pergerakan pasar pagi ini
Penguatan ini kontras dengan penutupan Selasa yang melemah 0,21 persen. Pelaku pasar memonitor ketat keputusan suku bunga BI dan data yang bisa mempengaruhi aliran modal asing.
Analisis dan proyeksi jangka pendek
Analis Pasar Uang MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat peluang penguatan rupiah dalam jangka pendek. Dia memperkirakan rentang pergerakan hari ini berada di antara Rp17.706 hingga Rp17.830 per dolar AS.
Untuk rupiah sendiri, kami mencermati ada peluang penguatan dalam jangka pendek,
Faktor pendukung penguatan
Beberapa faktor disebut mendukung rupiah, antara lain cadangan devisa yang masih kuat dan aliran masuk modal ke Surat Berharga Negara (SBN). Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, kondisi tersebut memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan.
Kami memperkirakan BI akan menahan suku bunga, didukung nilai tukar rupiah yang masih terjaga di sekitar Rp17.800 per dolar AS,
Jessica juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar USD146,5 miliar serta aliran masuk modal asing yang tetap terjaga melalui SBN.
Skenario kebijakan Bank Indonesia
Dari sisi konsensus pasar, diprakirakan BI akan menahan BI Rate pada level 5,75 persen. Indikator lain yang diamati adalah spread antara Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan dengan BI Rate.
Spread tersebut dilaporkan menyempit, bergerak dari sekitar 209 basis poin menjadi 118 basis poin sejak kenaikan terakhir. Menurut Jessica, penyempitan spread ini mendukung opsi BI untuk mempertahankan arah kebijakan pro-growth.
Sehingga BI memiliki ruang mempertahankan arah kebijakan pro-growth. Meskipun harga minyak mentah, utamanya harga minyak Brent kembali di atas USD100 per barel,
Dampak dan prospek ke depan
Pasar kemungkinan akan tetap volatil menjelang dan setelah pengumuman RDG BI. Jika BI menahan suku bunga sesuai konsensus, tekanan apresiasi rupiah bisa berlanjut, namun faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak tetap menjadi risiko.
Investor dan pelaku pasar diperkirakan akan terus mengamati aliran modal, data makro mendatang, dan pernyataan resmi Bank Indonesia untuk menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Prabowo Minta Penyelesaian IEU-CEPA Dikebut, Target Implementasi Awal 2027
Presiden Prabowo minta penyelesaian IEU-CEPA dipercepat agar dokumen siap masuk proses ratifikasi; target im...
MagangHub Perluas Akses Kerja, 87 Ribu Peserta Telah Terpilih
Pemerintah menetapkan 41 ribu peserta MagangHub batch II angkatan kedua, sehingga total peserta Pemagangan N...
Panja RUU Kawasan Industri Dorong Keterhubungan Kendaraan Listrik
Panja RUU Kawasan Industri Komisi VII mendorong integrasi industri kendaraan listrik dengan pemasok, SDM, in...
Harga Emas Antam Naik Rp3.000, 1 Gram Rp2.630.000
Emas Antam menguat Rp3.000 per gram pada 23 Sep 2026; 1 gram dipatok Rp2.630.000 dan buyback Rp2.465.000.
Syngenta Gelar Petani MAJU Summit 2026 untuk Kedaulatan Pangan
Syngenta mengadakan Indonesia Petani MAJU Summit 2026 untuk memperkuat sinergi kebijakan, riset, dan inovasi...
KAI Layani 351,6 Juta Pelanggan Hingga Agustus 2026
KAI Group melayani 351,6 juta pelanggan hingga Agustus 2026, naik 7,09%; KAI Commuter menyumbang 277,3 juta...