BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat ke Rp17.818/US$
Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 5,75% pada Rabu, 23 September 2025, dan rupiah merespons dengan menguat pada penutupan perdagangan. Menurut data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,37% atau 66 poin ke level Rp17.818 per dolar AS.
Reaksi pasar dan pernyataan gubernur BI
Keputusan BI yang menahan suku bunga didesain untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas tersebut.
Alhamdulillah, respons pasar hari ini bagus, rupiah menguat. Tentunya kita akan terus memperhatikan pergerakan di market
Destry juga menyatakan kebijakan tersebut membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi melalui iklim makro yang kondusif.
Faktor domestik: penyelesaian utang BLBI
Salah satu faktor yang turut mendukung apresiasi rupiah adalah pengumuman pemerintah soal selesainya pembayaran utang BLBI. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penyelesaian kewajiban itu mengurangi beban fiskal masa lalu dan meningkatkan kepercayaan pasar.
Pemerintah melalui Menteri Keuangan menekankan, proses panjang ini harus menjadi pembelajaran luar biasa. Utamanya dalam mengelola keuangan negara di masa depan agar terhindar dari krisis serupa
Faktor eksternal: pertemuan AS-Iran dan sinyal The Fed
Kondisi eksternal juga memperkuat rupiah pada hari ini. Kabar tentang pertemuan antara delegasi AS dan Iran di New York memunculkan harapan meredanya ketegangan yang dapat menstabilkan pasokan energi di sekitar Selat Hormuz.
Selain itu, pasar mencermati pernyataan pejabat The Fed wilayah Richmond, Thomas Barkin, yang menyorot bahwa tekanan inflasi kemungkinan membutuhkan waktu untuk mereda. Analis Ibrahim menirukan pernyataan Barkin yang menekankan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Karenanya kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk mencapai harga menuju target inflasi 2 persen yang ditetapkan The Fed. Selain itu, risiko terhadap inflasi saat ini lebih besar dibandingkan risiko terhadap pencapaian lapangan kerja
Dampak jangka pendek dan prospek
Penguatan rupiah hari ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi kebijakan domestik dan dinamika global. Meski demikian, volatilitas masih mungkin terjadi sejalan dengan perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter internasional.
BI menyatakan akan terus memantau pergerakan pasar dan menyesuaikan kebijakan bila diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Pasar ke depan akan tetap mengamati data inflasi domestik, keputusan moneter global, dan perkembangan geopolitik yang memengaruhi aliran modal dan harga komoditas energi.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
BAZNAS Kembangkan Usaha Tempe Mustahik, Omzet Rp550 Ribu/Hari
BAZNAS lewat Program Microfinance Desa mengembangkan usaha tempe mustahik di Demak; omzet kini mencapai Rp55...
Pegadaian Jakarta 1 Perkuat Ekosistem Emas, Bisnis Tumbuh 22,6%
Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 catat pertumbuhan 22,6% hingga 2026, perkuat ekosistem emas lewat digital, l...
IHSG Menguat 1,56% ke 6.374,91 pada Penutupan 23 Sept 2026
IHSG menguat 1,56% ke 6.374,91 pada 23 Sept 2026, didorong meredanya ketegangan Timur Tengah, koreksi harga...
Rupiah Melemah ke Rp17.884/US$, Begini Dampaknya
Rupiah turun 0,21% ke Rp17.884/US$ pada 22 Sep 2026; tekanan impor dan harga energi berpotensi menaikkan bia...
Jelang Pengumuman BI Rate, Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.819
Rupiah berbalik menguat 0,36% ke Rp17.819 jelang pengumuman RDG BI; pasar antisipasi BI Rate 5,75% dan alira...
IHSG Diprakirakan Rebound Hari Ini, Asing Catat Net Sell
IHSG diperkirakan rebound ke 6.300-6.320 setelah turun 1,7%; investor menunggu keputusan BI dan data Fed.