Pangan Ultra-Proses Tak Bisa Dinilai dari Pengolahan Saja
Pangan ultra-proses tidak bisa dinilai hanya dari jumlah tahapan pengolahan, kata Prof. Purwiyatno Hariyadi dari IPB University pada Jumat, 25 September 2026. Ia menekankan bahwa kandungan gizi, tujuan pengolahan, keamanan, dan pola konsumsi harus menjadi bagian penilaian.
Mengapa proses saja tidak cukup
Menurut Prof. Purwiyatno, klasifikasi UPF yang umum digunakan merujuk pada sistem NOVA, yang membagi pangan berdasarkan tingkat dan tujuan pengolahan. Namun ia memperingatkan bahwa jumlah langkah pengolahan bukan indikator tunggal kualitas makanan.
"Tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa semakin kompleks atau semakin banyak tahapan pengolahan suatu pangan. Maka kualitas pangan tersebut pasti semakin buruk,"
Ia menambahkan bahwa tujuan pengolahan bisa beragam, misalnya meningkatkan keamanan, memperpanjang masa simpan, atau meningkatkan kecernaan. Penilaian harus melihat jenis proses, kondisi pelaksanaan, dan perubahan atribut mutu yang terjadi.
"Yang perlu dinilai adalah proses apa yang dilakukan, pada kondisi seperti apa. Kemudian, perubahan apa yang ditimbulkannya, dan atribut mutu apa yang terdampak,"
Fortifikasi, reformulasi, dan kebutuhan khusus
Prof. Purwiyatno dan organisasi terkait menyoroti peran teknologi pengolahan dalam fortifikasi dan reformulasi. Proses ini dapat menambah zat gizi penting atau mengurangi komponen berisiko, sehingga bermanfaat bagi kelompok dengan kebutuhan khusus.
Contoh yang disebut adalah produk untuk bayi, anak usia dini, dan ibu dengan kebutuhan nutrisi tertentu. Produk yang diformulasikan khusus tidak bisa disamakan langsung dengan pangan olahan massa berdasarkan hanya kategori UPF.
Perspektif ahli gizi
Prof. Ali Khomsan, pakar gizi masyarakat IPB University, menegaskan bahwa tingkat pengolahan bukanlah satu-satunya ukuran mutu pangan. Ia menekankan pentingnya melihat kandungan gizi, keamanan, dan cara pangan itu dimasukkan ke dalam pola makan sehari-hari.
"Penilaian pangan tidak bisa hanya dilihat dari tingkat pengolahannya. Yang lebih penting adalah kandungan zat gizi, keamanan. Kemudian juga bagaimana pangan tersebut dikonsumsi dalam pola makan yang seimbang,"
Ia memberi contoh variasi produk susu: susu UHT untuk keamanan dan daya simpan, yoghurt melalui fermentasi, dan susu fortifikasi yang menambah zat gizi tertentu. Perbedaan tujuan ini menentukan nilai gizi dan fungsi produk.
Panduan praktis bagi konsumen
Bagi konsumen yang memilih pangan olahan kemasan, periksa informasi pada kemasan secara teliti. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyediakan prinsip Cek KLIK sebagai panduan.
- Kemasan
- Label
- Izin Edar
- Kedaluwarsa
Informasi komposisi dan nilai gizi pada label membantu menilai apakah produk sesuai kebutuhan. Untuk informasi resmi, kunjungi situs Cek KLIK BPOM.
Kesimpulan
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara konsumsi tinggi UPF dengan masalah kesehatan. Namun para ahli menegaskan bahwa proses pengolahan tidak otomatis menjadi penyebab tunggal. Penilaian yang komprehensif harus mempertimbangkan kandungan gizi, tujuan pengolahan, keamanan, serta jumlah dan frekuensi konsumsi dalam konteks pola makan keseluruhan.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Kemenkes Siapkan Tenaga Cadangan dan Masker Hadapi Kabut Asap
Kemenkes menyiapkan tenaga cadangan dan mendistribusikan masker untuk merespons dampak kabut asap Karhutla d...
Kemenkes Pantau Dampak Kabut Asap Karhutla pada Anak
Kemenkes memantau dampak kabut asap Karhutla di tujuh provinsi; anak rentan ISPA, layanan kesehatan dan pos...
Hari Apoteker Sedunia: Sejarah, Peran FIP, dan Tema 2026
Hari Apoteker Sedunia diperingati setiap 25 September. FIP mengoordinasi peringatan ini sejak 2010 dengan te...
Kristin Tjandra: Komunikasi Dua Arah Kunci Konsultasi Dokter
Dr. Kristin Tjandra: komunikasi dua arah antara pasien dan dokter kunci konsultasi efektif dan cegah miskons...
Perbedaan Influenza dan Pneumonia: Penyebab, Risiko, Pencegahan
Dokter Joyce Bratanata jelaskan perbedaan influenza dan pneumonia, faktor risiko lansia dan komorbid, serta...
Dokter Ingatkan Persiapan Kesehatan Jemaah Sebelum Berangkat Haji
Dokter sarankan pemeriksaan kesehatan 2–6 bulan sebelum haji; waspadai infeksi pernapasan, komorbid, dan kon...