Akhir Pekan, Rupiah Menguat ke Rp17.963 per Dolar AS
Rupiah kembali menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan. Data penutupan perdagangan hari ini menunjukkan rupiah naik 0,18% atau 32 poin menjadi Rp17.963 per dolar AS. Penguatan ini didorong kombinasi faktor eksternal dan perkembangan di dalam negeri.
Faktor eksternal menopang rupiah
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyatakan beberapa faktor luar negeri sementara ini menjadi penopang penguatan rupiah. Ia menyebut perkembangan negosiasi geopolitik dan tren harga minyak dunia sebagai pendorong utama.
“Negosiasi AS-Iran mengirimkan sinyal yang beragam, sehingga masih menimbulkan risiko geopolitik. Iran menolak desakan AS melepas Selat Hormuz karena sebagai kompensasi pencairan dana milik Iran,” ujar Ibrahim.
Data ketenagakerjaan AS dan ekspektasi suku bunga
Data ketenagakerjaan AS yang dirilis akhir bulan lalu turut memengaruhi sentimen pasar. Penyerapan tenaga kerja pada Juni tercatat melemah, dengan penambahan sebanyak 57 ribu pekerjaan, lebih rendah dari ekspektasi 110 ribu.
“Tingkat pengangguran secara tak terduga menurun menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen. Pendapatan rata-rata per jam naik 0,3 persen secara bulanan, dan 3,5 persen secara tahunan,” kata Ibrahim.
Pelambatan penyerapan tenaga kerja membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed berkurang. Berdasarkan alat pemantau pasar, probabilitas kenaikan suku bunga turun dari sekitar 63% menjadi 51%.
Penerimaan PPh Indonesia mulai melambat
Ibrahim juga menyoroti temuan dalam laporan OECD tentang penerimaan di kawasan Asia Pasifik. Menurut laporan itu, mesin penerimaan pajak penghasilan (PPh) Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Data menunjukkan penerimaan PPh hanya naik tipis dari Rp1.061,24 triliun pada 2023 menjadi Rp1.061,94 triliun pada 2024, atau sekitar Rp700 miliar (0,07% tahunan). Sementara itu, total penerimaan pajak naik dari Rp2.517,66 triliun menjadi Rp2.620,67 triliun, bertambah sekitar Rp103 triliun.
OECD mencatat kontribusi pajak badan turun dari Rp829,66 triliun menjadi Rp818,30 triliun. Sebaliknya, penerimaan dari PPh orang pribadi masih tumbuh, naik dari Rp231,59 triliun menjadi Rp243,64 triliun.
Dampak dan prospek
Perlambatan penerimaan PPh berpotensi memberi tekanan pada ruang fiskal dan pertumbuhan ekonomi jika berlanjut. Di sisi pasar valuta, kombinasi pelemahan data AS dan meredanya risiko kenaikan suku bunga global dapat mempertahankan dukungan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Namun, risiko geopolitik dan dinamika penerimaan pajak domestik akan tetap menjadi variabel yang perlu dipantau oleh pelaku pasar dan pembuat kebijakan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Program TEKAD Dorong Produk Lokal Manggarai Bernilai Tambah
Dinas PMD Manggarai dorong kelompok tani Program TEKAD olah dan kemas produk lokal agar bernilai tambah dan...
Kode Homemade Batam: Frozen Food Tanpa Pengawet dan Ekspor
Kode Homemade Batam memproduksi frozen food dan camilan tanpa pengawet sejak 2021, kini melayani pesanan nas...
Moora Fresh: Inspirasi Usaha Kuliner dari Manokwari
Alfiana Ida Matini berbagi perjalanan membangun Moora Fresh di Manokwari, menekankan kualitas, sentuhan loka...
Inovasi dan Digitalisasi Kunci UMKM Naik Kelas
Noorahmiati: inovasi, manajemen, dan digitalisasi jadi kunci agar UMKM rumahan dapat naik kelas dan berkelan...
Perayaan HUT RI di Sidodadi Dongkrak Pendapatan UMKM
Perayaan HUT RI Ke-81 di Dusun Sidodadi, Lampung Tengah, meningkatkan pendapatan UMKM hingga tiga kali lipat...
UMKM Malinau Gelar Olahraga Bersama Semarakkan HUT ke-81 RI
Pelaku UMKM di PLB Malinau menggelar senam dan permainan pada 19 Agustus 2026 untuk memeriahkan HUT ke-81 RI...