Rupiah Menguat 151 Poin di Tengah Harapan Perdamaian AS-Iran
Rupiah ditutup menguat signifikan pada penutupan perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar naik 0,85 persen atau 151 poin menjadi Rp17.708 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh sentimen positif atas prospek perdamaian AS-Iran dan ekspektasi kebijakan bank sentral.
Sentimen Global: Harapan Perdamaian AS-Iran
Pasar mulai merespons kabar awal tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran. Pernyataan itu memicu optimisme terkait stabilitas pasokan energi dan penurunan risiko geopolitik.
Media semi-resmi Iran melaporkan draft kesepakatan yang menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam 30 hari, sementara wakil menteri luar negeri Iran menyebut negosiasi lebih luas akan berlangsung selama gencatan senjata 60 hari.
Negara-negara E4 juga menyatakan kesiapan untuk mencabut sanksi sebagai imbalan atas langkah terkait program nuklir Iran.
"Perdana Pakistan mengatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang," ucap Ibrahim Assuaibi.
Dampak pada Kebijakan Bank Sentral
Perkembangan geopolitik ini berbarengan dengan agenda kebijakan moneter global. Beberapa bank sentral telah menyesuaikan suku bunga untuk meredam inflasi, namun harapan perdamaian dapat mengubah arah langkah tersebut.
Reserve Bank of Australia menaikkan suku bunga 75 basis poin, dan European Central Bank menaikkan 25 basis poin. Di sisi lain, perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan The Fed yang akan dipimpin oleh ketua baru, Kevin Warsh.
"Di sisi lain, perhatian pasar minggu ini akan tertuju pada pengumuman bank sentral AS terkait kebijakan moneternya. The Fed akan melakukan pertemuan pertama yang dipimpin oleh ketua barunya, Kevin Warsh," ujar Ibrahim.
Ibrahim menambahkan bahwa penyelesaian konflik yang cepat bisa mencegah beberapa bank sentral memperkuat kebijakan moneternya lebih lanjut.
Sentimen Domestik dan Fokus BI
Dari dalam negeri, pelemahan harga minyak dunia turut mereduksi tekanan fiskal, sehingga menjadi faktor positif bagi rupiah. Pemerintah juga melaporkan langkah efisiensi anggaran dan penyesuaian target program tertentu.
"Dengan kondisi global yang kembali stabil, masyarakat akan menjual valuta asingnya," kata Ibrahim, merujuk seruan pejabat legislatif agar warga menukarkan dolar ke rupiah.
Pelaku pasar domestik kini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan ini. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga menjadi 5,5 persen per 9 Juni untuk mendukung penguatan rupiah.
Prospek Pasar
Jika prospek perdamaian terkonfirmasi dan tekanan inflasi mereda, rupiah berpotensi melanjutkan penguatan. Namun pasar tetap waspada pada keputusan The Fed dan perkembangan geopolitik selanjutnya.
Perpaduan faktor eksternal dan domestik akan menentukan arah rupiah dalam beberapa pekan ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Promo Whoosh HUT ke-81: Tiket Mulai Rp8.800, Diskon hingga Rp200.000
KCIC tawarkan tiket Whoosh mulai Rp8.800 (7-17 Agustus 2026) dan potongan hingga Rp200.000 lewat Traveloka;...
CRESTA: Hunian Tepi Danau dengan Cicilan Mulai Rp3 Juta-an
Damai Putra Group luncurkan CRESTA, hunian tepi danau di Kota Harapan Indah dengan cicilan mulai Rp3 juta-an...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000, Jadi Rp2,675 Juta/gram
Harga emas Antam naik Rp11.000 per gram pada 15 Agustus 2026, menjadi Rp2.675.000/gram; berikut daftar harga...
OJK Tegaskan Demutualisasi BEI Tak Kurangi Pengawasan
OJK menegaskan demutualisasi BEI tidak mengurangi kewenangan pengawasan dan RPOJK ditargetkan efektif kuarta...
OJK: Demutualisasi BEI Perkuat Daya Saing Pasar Modal
OJK menyatakan demutualisasi BEI memperkuat kelembagaan, efisiensi operasional, dan akses permodalan tanpa m...
Danantara Tegaskan DSI Bukan Eksportir Tunggal SDA Strategis
Danantara menegaskan DSI tak dibentuk sebagai eksportir tunggal; fungsi utama DSI adalah integrasi data eksp...