Ekonomi

KAI Siapkan 1.232 Hunian Terjangkau di TOD Manggarai

Bagikan:
Area rencana pengembangan TOD Manggarai dekat Stasiun Manggarai yang dikelola KAI

PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan 1.232 unit hunian terjangkau di kawasan berorientasi transit (TOD) Manggarai. Pengembangan ini ditempatkan pada lahan seluas 2,19 hektare di Blok F dan Blok G, dengan peletakan batu pertama dijadwalkan pada 21 Agustus 2026. Tahap awal proyek mencakup total 3.740 unit hunian dan 150 unit ruang usaha ritel.

Detail proyek dan jadwal

Pembangunan tahap awal berfokus pada Blok F dan G yang berada di lahan milik KAI. Peletakan batu pertama dijadwalkan pada Jumat, 21 Agustus 2026, dan menjadi tonggak awal pengembangan bertahap kawasan Manggarai.

Alasan dan manfaat pengembangan

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan tujuan pengembangan adalah mendekatkan hunian dengan moda transportasi publik. Pendekatan ini diharapkan membuat perjalanan warga lebih ringkas dan biaya mobilitas lebih efisien.

"Kota akan bekerja lebih baik ketika masyarakat dapat tinggal lebih dekat dengan transportasi publik dan pusat aktivitasnya. Manggarai memberi kesempatan kepada KAI untuk membangun kawasan dengan pendekatan itu. Kami ingin perjalanan masyarakat menjadi lebih ringkas, biaya mobilitas semakin efisien, dan akses terhadap kota semakin terbuka,"

Kapasitas stasiun dan pengguna

Bobby menjelaskan bahwa Stasiun Manggarai melayani sekitar 162 ribu pergerakan pelanggan per hari dan menampung sekitar 700–750 perjalanan kereta api setiap hari. Data operasional ini menjadi salah satu dasar perencanaan hunian dan fasilitas penunjang di sekitar stasiun.

"KAI ingin membangun kemampuan pengembangan TOD dengan standar yang semakin tinggi. Kami belajar dari praktik terbaik berbagai kota dunia, tetapi kebutuhan masyarakat Indonesia tetap menjadi titik berangkatnya. Keberhasilan Manggarai nanti akan diukur dari seberapa nyaman kawasan ini digunakan untuk tinggal, bekerja, berpindah moda, dan menjalani aktivitas sehari-hari,"

Komposisi hunian dan target kelompok masyarakat

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan komposisi hunian ditata agar berbagai kelompok masyarakat bisa tinggal dalam satu kawasan yang terhubung ke transportasi publik. Sebanyak 1.232 unit dirancang untuk segmen MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) dan MBM (Masyarakat Berpenghasilan Menengah).

"Komposisi hunian di Blok F dan G dirancang agar berbagai kelompok masyarakat dapat berada dalam satu kawasan yang dekat dengan transportasi publik. Sebanyak 1.232 unit berada pada segmen MBR dan MBM. Ini menjadi bagian penting dari rencana Manggarai sebagai kawasan dengan fungsi hunian, transportasi, ruang publik, dan kegiatan ekonomi yang saling terhubung,"

Rincian lahan dan tipe hunian

Pengembang mengalokasikan luas lahan sebagai berikut untuk tahap awal. Tipe hunian dibuat beragam untuk menyesuaikan kebutuhan keluarga dan individu yang bepergian dengan transportasi umum.

Blok Luas (m²) Tipe Hunian
Blok F 15.014 Studio 28 m², Tipe 36, Tipe 45 (2 kamar)
Blok G 6.925 Studio 28 m², Tipe 36, Tipe 45 (2 kamar)

Tahap pengembangan dan master plan

KAI menyatakan pengembangan akan dilakukan bertahap setelah tahap awal berjalan. Master Plan dan Panduan Rancang Kota kini disusun bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memastikan integrasi fungsi hunian, transportasi, ruang publik, dan kegiatan ekonomi.

"Blok F dan G menjadi titik awal karena lokasinya dekat dengan Stasiun Manggarai dan berada pada lahan KAI. Setelah tahap awal berjalan, pengembangan kawasan akan dilanjutkan secara bertahap. Arahnya adalah membuat Manggarai semakin mudah diakses, nyaman untuk berjalan kaki, terhubung antarmoda, serta memiliki pilihan hunian yang dekat dengan perjalanan sehari-hari masyarakat,"

Secara total, rencana pengembangan TOD Manggarai mencakup area seluas 129 hektare. Data jumlah pelanggan Kereta Rel Listrik (KRL) yang tercatat hingga Juni 2026 mencapai 2.716.932 orang, yang menjadi salah satu pertimbangan kebutuhan hunian dan fasilitas di kawasan.

KAI menempatkan proyek ini sebagai upaya menghadirkan hunian yang terjangkau dan terintegrasi dengan transportasi publik. Keberlanjutan dan kenyamanan kawasan menjadi indikator utama keberhasilan pada tahap lanjutan pengembangan.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait