Rupiah Menguat di Pembukaan, Namun Masih Rawan Pelemahan
Rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, namun tetap rentan terhadap tekanan eksternal dan domestik. Data pasar menunjukkan rupiah naik 0,09% atau 16 poin ke Rp18.171 per dolar AS setelah sehari sebelumnya ditutup melemah menjadi Rp18.187 per dolar AS.
Pembukaan pasar dan pergerakan terbaru
Pembukaan yang menguat ini masih tipis dan dapat berbalik seiring perkembangan sentimen global. Indeks dolar AS tercatat bergerak di kisaran 99,94–100,06 pada pagi hari, sementara pasar tetap mencatat aksi jual saham yang mendorong arus keluar modal asing.
Ekspektasi suku bunga dan komentar analis
Prospek kenaikan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor utama pemicu volatilitas. Analis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menilai kebijakan tersebut bakal diikuti oleh kebijakan domestik.
Fikri C. Permana: Kemungkinan meningkatnya inflasi AS mendorong ekspektasi naiknya suku bunga The Fed, dan BI mungkin akan kembali menaikkan suku bunga acuan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur bulan ini.
Fikri juga memperkirakan rupiah akan bergerak di dekat Rp18.190 per dolar AS jika tekanan eksternal tidak mereda.
Peran imbal hasil SBN dan koordinasi kebijakan
Penguatan rupiah pada pembukaan sebagian didorong oleh kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun tercatat 7,27%, sedangkan tenor dua tahun naik menjadi 7,19%.
Ekonom dari Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, melihat kenaikan imbal hasil sebagai bagian dari upaya menarik kembali arus modal asing melalui peningkatan daya tarik instrumen obligasi.
Rully Arya Wisnubroto: Kenaikan imbal hasil ini tidak lepas dari koordinasi kebijakan antara BI dan Kementerian Keuangan sebagai upaya menarik kembali arus modal asing.
Risiko global dan prospek ke depan
Meskipun upaya peningkatan imbal hasil membantu, dampak terhadap rupiah masih terbatas. Tekanan global, termasuk konflik AS–Iran yang mendorong kenaikan harga minyak, tetap menjadi faktor dominan.
Rully menambahkan bahwa Indonesia perlu memperkuat komunikasi kebijakan untuk meredam kenaikan risk premium. Catatan dari pasar menunjukkan credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun sudah meningkat di atas 100 basis poin, yang mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kerentanan domestik meski valuasi obligasi makin menarik.
Secara keseluruhan, penguatan rupiah pada pembukaan bersifat sementara dan berisiko kembali melemah jika ekspektasi suku bunga global menguat atau arus modal asing berlanjut keluar. Pelaku pasar akan mencermati keputusan Rapat Dewan Gubernur BI dan data ekonomi global sebagai penentu arah selanjutnya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...