Ekonomi

Rupiah Perkasa di Awal Perdagangan, Menguat ke Rp17.715/USD

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah menguat terhadap dolar AS di pembukaan perdagangan

Rupiah menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, Jumat, 21 Agustus 2026, terhadap dolar AS karena sentimen geopolitik yang memicu reli harga minyak. Nilai tukar naik 0,19 persen atau 33 poin menjadi Rp17.715 per dolar AS, melanjutkan penguatan dari penutupan sebelumnya di Rp17.748 per dolar AS.

Pergerakan terbaru dan proyeksi

Penguatan awal ini menandai konsolidasi pasar setelah lonjakan pada sesi sebelumnya. Meski demikian, analis memperingatkan adanya tekanan balik jika ketegangan global terus memanas.

"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi melemah terhadap dolar AS, Meski potensi pelemahannya terbatas,"

Prediksi rentang pergerakan untuk hari ini berada di sekitar Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS. Indeks dolar AS dipantau di level 98,76, sedikit melemah dari posisi 98,89 sebelumnya.

Faktor pendorong: ketegangan Timur Tengah dan harga minyak

Pasar bereaksi terhadap meruncingnya ketegangan antara AS dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Kondisi itu mendorong harga minyak dunia naik, yang kemudian memengaruhi mata uang negara eksportir-impor energi.

Harga minyak mentah Brent tercatat mencapai USD93,78 per barel, naik sekitar 2,4 persen, sementara WTI berada di USD87,83 per barel, naik sekitar 2,3 persen. Kenaikan ini juga dikaitkan dengan ancaman yang terus dilontarkan Presiden Trump terhadap Iran.

Risiko dan sentimen investor

Analis pasar menyebut ada potensi rupiah berbalik melemah apabila konflik berkepanjangan mendorong harga energi lebih tinggi. Selain itu, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menunggu rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia untuk triwulan II 2026, yang dinilai dapat mempengaruhi sentimen lebih lanjut.

"Rupiah hari ini diprakirakan akan bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS,"

Implikasi bagi pasar domestik

Kenaikan harga minyak berpotensi menekan defisit neraca berjalan bila impor energi meningkat. Di sisi lain, rupiah yang masih relatif stabil membantu meredam tekanan biaya impor jangka pendek.

Pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik dan data makro domestik sebagai penentu arah rupiah dalam beberapa sesi ke depan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait