Ekonomi

Rupiah Terdorong ke Rp17.796 di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Bagikan:
Grafik rupiah melemah menuju Rp17.796 per dolar AS di pasar valuta asing

Rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.796 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, turun 0,29 persen (52 poin). Pelemahan terjadi di tengah memanasnya situasi Timur Tengah yang menguatkan dolar AS dan mendorong ketidakpastian pasar.

Penutupan pasar dan penyebab

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berakhir di level Rp17.796 per dolar AS setelah tekanan di pasar global. Penguatan dolar dipicu oleh kabar eskalasi militer antara AS dan Iran yang menambah sentimen safe-haven.

Analisis pasar menyoroti bahwa langkah militer dan potensi kenaikan harga minyak menjadi faktor utama tekanan nilai tukar.

Perkembangan geopolitik

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa AS melancarkan serangan baru ke Iran, yang berimplikasi pada proses negosiasi perdamaian.

“Amerika Serikat kembali melancarkan serangan baru ke Iran di tengah proses kesepakatan perdamaian. AS berdalih serangan ke lokasi peluncuran rudal dan kapal penyebar ranjau Iran itu, sebagai upaya membela diri,” kata Ibrahim Assuaibi, Selasa, 26 Mei 2026.

Meski Iran belum memberikan respons resmi atas serangan itu, setiap aksi militer berpotensi menghambat negosiasi dan mendorong fluktuasi harga komoditas seperti minyak.

Dampak pada industri dan tenaga kerja

Ibrahim mengingatkan bahwa pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku bagi sektor industri. Kenaikan biaya produksi ini berisiko memicu efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.

“Sehingga berisiko akan terjadi pemutusan hubungan kerja atau PHK karena perusahaan yang melakukan efisiensi. Konflik geopolitik global dan naiknya harga bahan bakar, semakin memperburuk situasi,” ujar Ibrahim.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah PHK mencapai 15.452 orang pada periode Januari-April 2026, angka yang menunjukkan tekanan nyata di pasar tenaga kerja.

Kasus perusahaan dan proyeksi PHK

Ibrahim merinci beberapa kasus dan potensi PHK di sektor tertentu. Penutupan pabrik elektronik dan menurunnya penjualan otomotif adalah katalis utama kerugian tenaga kerja.

  • PT Xacti Indonesia (Depok): sekitar 350 pekerja terkena PHK setelah penutupan operasional pabrik elektronik.
  • CV Asri (Sidoarjo, otomotif): mem-PHK sekitar 200 pekerja karena penurunan penjualan kendaraan.
  • Sektor tekstil dan alas kaki: potensi PHK mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan, menurut analisis Ibrahim.

“Di Sidoarjo, Jawa Timur, CV Asri yang bergerak di sektor otomotif mem-PHK sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan kendaraan. Sementara itu potensi PHK di sektor industri tekstil dan alas kaki mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan,” kata Ibrahim menutup analisisnya.

Implikasi ke depan

Kombinasi ketegangan geopolitik dan pelemahan rupiah berpotensi memperpanjang tekanan pada sektor industri yang bergantung pada impor. Pasar akan terus memantau perkembangan konflik dan pergerakan harga minyak sebagai indikator risiko lanjutan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait