IHSG Terkoreksi 1,23% pada Penutupan 26 Mei 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, turun 1,23 persen ke level 6.132,74. Penurunan terjadi setelah indeks bergerak di zona merah sejak pembukaan dan mencatat tekanan dari aksi jual asing serta sentimen geopolitik.
Pergerakan pasar dan komposisi saham
IHSG dibuka di level 6.201,80 dan sempat menyentuh posisi terendah di 6.124,79 sebelum akhirnya ditutup melemah. Sepanjang sesi, pergerakan indeks cenderung fluktuatif dan dominan negatif.
Jumlah saham yang melemah mencapai 447, sedangkan 241 saham menguat dan 133 saham stagnan.
Transaksi dan likuiditas
Nilai transaksi pada hari ini tercatat lebih dari Rp17 triliun. Volume perdagangan mencapai sekitar 24,38 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 1,9 juta kali transaksi. Angka ini menunjukkan aktivitas pasar yang padat meski berakhir di zona merah.
Komentar analis dan level teknikal
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan koreksi pada IHSG masih berpotensi berlanjut. Ia memetakan rentang support dan resistance yang perlu dicermati oleh pelaku pasar.
"IHSG berpotensi terkoreksi, di level support IHSG akan bergerak pada rentang 6.060-6.170. Sedangkan di level resistansi, IHSG akan bergerak pada rentang 6.250-6.270."
Aksi jual asing dan saham yang banyak dilepas
Meski pada perdagangan sebelumnya IHSG sempat ditutup menguat, investor asing melakukan aksi jual bersih sekitar Rp2,09 triliun. Saham-saham yang paling banyak dilepas antara lain:
- AMMN
- BMRI
- AMRT
- ANTM
- TPIA
Pengaruh geopolitik dan harga minyak
Sentimen global turut memengaruhi pasar. Laporan terkait koordinasi antara Qatar dan Amerika Serikat dalam upaya mediasi antara AS dan Iran menjadi perhatian pelaku pasar.
"Pasar saham di Asia merespons positif pernyataan pejabat AS terkuat adanya kesepakatan dengan Iran. Apalagi dengan adanya peluang untuk membuka kembali jalur perdagangan minyak utama dunia, Selat Hormuz."
Harga minyak juga menguat: Brent naik sekitar 0,9 persen ke US$103,54 per barel, sementara WTI menguat sekitar 0,3 persen ke US$96,60 per barel. Kenaikan minyak menambah tekanan pada sentimen pasar global.
Indeks kawasan dan prospek
Indeks di kawasan Asia mencatat penguatan pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Nikkei 225 naik 2,87 persen, Taiex Taiwan menguat 3,26 persen, dan CSI 300 Tiongkok meningkat 1,58 persen. Namun pasar Indonesia tetap rentan terhadap perkembangan negosiasi Iran dan keputusan investor asing.
Ke depan, investor diperkirakan akan terus memantau perkembangan negosiasi internasional dan pergerakan harga komoditas untuk menentukan arah alokasi aset di pasar domestik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Wali Kota Illiza Dukung UMKM Parfum Banda Aceh
Wali Kota Illiza kunjungi KIMI Parfum, dorong program "Banda Aceh sebagai Kota Parfum" dan kerja sama dengan...
Mengapa Produk Handmade Tetap Diburu di Era Produksi Massal
Produk handmade tetap laris karena keunikan, personalisasi, dan kualitas bahan, kata Putri Hidayah saat Obro...
Arby's Rumah Kue Terapkan Produksi Sesuai Pesanan untuk Kurangi Limbah
Arby's Rumah Kue Malang menerapkan produksi sesuai pesanan untuk menjaga kualitas sekaligus mengurangi limba...
Koperasi Pesantren Lumajang Ikuti Workshop Pengembangan Usaha
Pengurus koperasi pesantren Lumajang mengikuti workshop pada 23 Juli 2026 untuk memperkuat tata kelola dan m...
Belu Larang Sembelih Sapi Betina Produktif, Populasi 67.141
Pemda Belu melarang penyembelihan sapi betina produktif untuk menjaga populasi; jumlah sapi naik menjadi 67....
Pertamina Pastikan 13 SPBU Palembang Layani Biosolar 24 Jam
Pertamina memastikan 13 SPBU di Palembang menyalurkan Biosolar bersubsidi 24 jam untuk mereduksi antrean dan...