Ekonomi

Rupiah Tutup Melemah 0,11% ke Rp17.744, Tekanan dari Data PCE AS

Bagikan:
Ilustrasi layar kurs rupiah terhadap dolar AS di bursa

Rupiah ditutup melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis, 27 Agustus 2026, terdorong tekanan eksternal dari rilis data inflasi AS. Nilai tukar turun 0,11 persen atau 19 poin ke posisi Rp17.744 per dolar AS.

Penyebab Utama: Data PCE AS

Pelemahan mata uang domestik terutama dipicu oleh rilis Indeks Harga Personal Consumption Expenditures (PCE) dan PCE inti. Kedua indikator tersebut menunjukkan kenaikan 0,2 persen pada bulan Juli 2026, sementara PCE inti tahunan tercatat stabil di 3,3 persen, sesuai ekspektasi pasar.

“Indeks harga PCE inti (tidak menghitung harga pangan dan energi) stabil di 3,3 persen pada bulan Juli 2026. Angka itu sesuai konsensus pasar,”

Sentimen Pasar dan Agenda Minggu Ini

Pasar kini mengalihkan perhatian ke data klaim tunjangan pengangguran mingguan di AS yang akan dirilis selanjutnya. Selain itu, pidato ketua The Fed, Kevin Warsh, pada simposium ekonomi di Jackson Hole menjadi titik fokus pelaku pasar Jumat waktu setempat.

Perkembangan Timur Tengah

Di sisi geopolitik, ada perkembangan yang menambah dinamika pasar. Laporan menyebutkan kunjungan pejabat dari Qatar ke Iran untuk pembicaraan perdamaian, serta rencana pengelolaan bersama Selat Hormuz antara Iran dan Oman. Sementara itu, aktivitas militer AS dilaporkan mereda meski tekanan diplomatik terhadap Iran tetap berlangsung.

Perkembangan positif di kawasan ini menurunkan sebagian risiko geopolitik yang sebelumnya menekan sentimen pasar, namun pengaruhnya terhadap nilai tukar masih terbatas pada sentimen jangka pendek.

Situasi Dalam Negeri

Di dalam negeri, aksi penyampaian aspirasi di depan gedung DPR berlangsung tertib dan dianggap tidak menganggu pasar secara signifikan. Menurut analis pasar uang, respons pasar terhadap aksi tersebut cenderung positif karena berjalan damai.

“Pasar merespon positif terhadap aksi di depan Gedung DPR, karena berlangsung secara tertib dan damai,”

Sementara itu, DPR melanjutkan sidang paripurna yang antara lain membahas laporan Komisi III terkait perkembangan RUU Perampasan Aset. Dewan berjanji mengawal proses legislasi hingga batas akhir pengesahan.

“Anggota dewan berjanji akan mengawal sampai tanggal 15 Desember 2026, batas akhir pengesahan RUU Perampasan Aset,”

Prospek ke Depan

Kombinasi data ekonomi AS dan perkembangan geopolitik akan menentukan arah rupiah dalam jangka pendek. Pelaku pasar akan menunggu data lanjutan dan pidato Pembuat Kebijakan AS untuk sinyal suku bunga dan risiko global. Di dalam negeri, stabilitas politik serta kelanjutan pembahasan RUU dapat mempengaruhi sentimen investor kedepan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait