Ekonomi

Rupiah Anjlok 106 Poin ke Rp17.861 saat Penutupan Perdagangan

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan

Nilai tukar rupiah merosot 106 poin atau 0,60% ke posisi Rp17.861 per dolar AS pada penutupan Selasa, 11 Agustus 2026, seiring kewaspadaan pasar menjelang tinjauan MSCI dan meningkatnya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah.

Faktor domestik yang menekan

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan datang dari sentimen kehati-hatian investor terhadap agenda tinjauan MSCI yang dijadwalkan pada Rabu, 12 Agustus 2026. Meski demikian, Ibrahim menilai pelemahan tertahan oleh perkembangan di tingkat kebijakan moneter domestik.

"Pasar bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk bulan Agustus yang dijadwalkan pada Rabu, 12 Agustus 2026," kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, pengumuman penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal gubernur Bank Indonesia meredam kekhawatiran pasar terkait kepemimpinan di bank sentral setelah pengunduran diri Perry Warjiyo.

Data ekonomi domestik turut memperkuat gambaran tersebut. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli tercatat 116,8, level terendah sejak September 2025, sementara penjualan eceran bulanan untuk Juni naik 0,7%, didorong permintaan selama hari besar keagamaan dan libur sekolah.

Sentimen eksternal: risiko pasokan energi

Sentimen eksternal memperburuk tekanan pada rupiah. Pasar menyorot kembali eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Iran dan AS saling menuntut kompensasi atas serangan militer. Selain itu, Iran menyatakan masih menutup Selat Hormuz, berbeda dengan klaim otoritas AS.

Kelompok Houthi di Yaman juga mengancam membuka front baru dengan menyasar infrastruktur minyak di Laut Merah. Ibrahim mengatakan ancaman itu meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan dan mendorong kenaikan harga minyak.

"Ancaman Houthi kembali memicu kecemasan akan gangguan pasokan minyak. Sekaligus mendorong kenaikan harga minyak," ucap Ibrahim.

Perkembangan kebijakan moneter global

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS, yakni Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang menjadi acuan prospek kebijakan suku bunga The Fed. Perkiraan penurunan kedua indeks ini dianggap dapat meredam ekspektasi kenaikan suku bunga di AS.

Ibrahim merujuk data pasar derivatif kebijakan moneter, yang menunjukkan penurunan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September.

"Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekira 44 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September. Ekspektasi itu turun dari 67 persen seminggu sebelumnya," kata Ibrahim.

Dengan kombinasi sentimen domestik yang rapuh dan risiko eksternal yang meningkat, rupiah diperkirakan tetap bergerak volatil dalam beberapa hari mendatang, terutama menjelang keputusan MSCI dan rilis data inflasi AS.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait