Rupiah Dibuka Melemah 0,29% ke Rp17.807, Tekanan Berlanjut
Rupiah kembali dibuka melemah 0,29 persen terhadap dolar AS pada Selasa, 11 Agustus 2026, ke posisi Rp17.807, menurut data Bloomberg.
Pembukaan pasar dan kondisi terakhir
Sebelumnya pada Senin, rupiah ditutup menguat 0,79 persen atau 142 poin ke level Rp17.755 per dolar AS. Penguatan kemarin dipengaruhi kabar penunjukan calon tunggal Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti.
Faktor pendorong pergerakan
Meski kabar calon tunggal gubernur BI meredakan sebagian ketidakpastian, analis melihat efeknya bersifat sementara. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah kembali mengerek harga minyak, yang memberi tekanan pada mata uang emerging market termasuk rupiah.
"Tapi tidak untuk jangka panjang. Karena yang hilang juga berasal dari masalah yang seharusnya tidak ada,"
kata Lukman Leong, Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, yang juga memperkirakan tekanan berlanjut.
"Rupiah diprakirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik. Kondisi di Timur Tengah kembali menaikkan harga minyak mentah dunia,"
lanjut Lukman, yang memperkirakan rentang pergerakan hari ini antara Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Indeks dolar AS dan sentimen global
Indeks dolar AS tercatat di level 99,64, menguat 0,3 persen dibandingkan penutupan Senin. Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Ruly Arya Wisnubroto, menilai indeks dolar sempat berada di bawah level 100 dalam tiga sesi terakhir.
Menurut Ruly, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed pada September menjadi salah satu faktor pelemahan dolar baru-baru ini. Penurunan ekspektasi moneter ini muncul setelah data tenaga kerja AS bulan Juli yang lebih lemah dari perkiraan.
Dampak kabar calon tunggal Gubernur BI
Tim analis Mirae Asset mencatat rupiah menguat sekitar 1,2 persen sepanjang Juli 2026. Mereka menilai pengumuman calon tunggal Gubernur BI, Destry Damayanti, memberikan kelegaan jangka pendek bagi pasar.
"Namun pelaku pasar akan tetap mencermati kredibilitas kebijakan moneter BI. Serta komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi,"
kata Tim Analis Mirae Asset Sekuritas.
Prospek dan risiko ke depan
Secara ringkas, pasar saat ini menimbang antara sentimen domestik terkait kepemimpinan BI dan tekanan eksternal dari geopolitik serta harga minyak. Pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan geopolitik, data ekonomi AS, dan sinyal kebijakan BI untuk arah rupiah selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
IHSG Melemah 0,87% ke 6.309 pada Jeda Perdagangan 11 Agustus
IHSG turun 0,87% ke 6.309,90 pada jeda perdagangan 11 Agustus; sentimen pencalonan Gubernur BI, konflik AS-I...
Pembiayaan UMKM Tembus Rp1,948 Triliun, OJK: Akses Masih Tantangan
OJK: pembiayaan UMKM mencapai Rp1,948,72 triliun per Juni 2026, namun akses pembiayaan formal masih menjadi...
Ekspor Makanan dan Minuman Indonesia Masih Tertinggal dari Permintaan Global
Ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia tumbuh 5,44% per tahun, masih di bawah permintaan global 7,7%, m...
RI dan India Siapkan PTA, Bahas Setelah Reviu AITIGA Selesai
Indonesia siapkan PTA dengan India; pembahasan teknis akan dimulai setelah reviu AITIGA mencapai kesimpulan...
Kemenperin Buka Akses IKM Logam ke Rantai Pasok Industri Besar
Kemenperin fasilitasi kemitraan IKM logam dengan industri besar di Jawa Barat (29-30 Juli 2026) untuk memper...
Indonesia Buka Opsi PTA dengan Mercosur, Brasil Diminta Fasilitasi
Indonesia tawarkan opsi PTA dengan Mercosur; Brasil diminta fasilitasi agar negosiasi lebih cepat dan akses...