Kemenhut Percepat Rehabilitasi 12,3 Juta Ha Lahan Kritis
Kementerian Kehutanan mempercepat rehabilitasi lahan kritis seluas 12,3 juta hektare untuk mengatasi degradasi lahan dan mengantisipasi ancaman kekeringan serta kebakaran hutan pada 2026. Pernyataan ini disampaikan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki pada peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan yang digelar di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Data lahan kritis dan sebaran
Menurut Rohmat, total lahan kritis di Indonesia mencapai 12,3 juta hektare pada 2024. Pembagian lokasi menunjukkan sebagian besar masih berada di kawasan hutan, namun porsi di luar kawasan juga signifikan.
| Kategori | Luas (hektare) |
|---|---|
| Total lahan kritis | 12.300.000 |
| Di dalam kawasan hutan | 6.600.000 |
| Di luar kawasan ( Areal Penggunaan Lain/ APL ) | 5.700.000 |
Prioritas rehabilitasi dan kolaborasi
Pemerintah menempatkan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pengelolaan lahan berkelanjutan sebagai prioritas. Upaya ini dilanjutkan dengan menjaga tutupan hutan melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan.
"Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia masih memiliki sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis. Karena itu rehabilitasi lahan menjadi salah satu prioritas yang harus terus dipercepat melalui kolaborasi semua pihak," ujar Rohmat.
Rohmat menekankan pentingnya kerja bersama lintas sektor. Pihak yang dilibatkan antara lain:
- Pemerintah pusat dan daerah
- Dunia usaha
- Akademisi
- Masyarakat lokal
"Kita tidak bisa bekerja sendiri. Upaya rehabilitasi lahan membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan," tambahnya.
Risiko El Niño dan kebakaran hutan
Rohmat mengingatkan prediksi datangnya fenomena El Niño yang diperkirakan lebih cepat dan berlangsung lebih lama pada 2026. Kondisi ini meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data Kementerian menunjukkan bahwa pada Januari–Mei 2026 luas kebakaran tercatat sekitar 81.000 hektare, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam lima tahun terakhir.
Strategi penanaman dan mitigasi bencana
Salah satu langkah yang digenjot adalah penanaman pohon pada musim penghujan untuk meningkatkan keberhasilan rehabilitasi. Pemerintah juga memprioritaskan rehabilitasi kawasan hulu dan sempadan sungai, terutama yang berdekatan dengan pemukiman.
"Kami juga memprioritaskan rehabilitasi kawasan hulu sungai dan sempadan sungai, terutama yang berdekatan dengan permukiman. Dan ini sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko banjir dan longsor yang belakangan terjadi di sejumlah daerah," ujar Rohmat.
Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap rehabilitasi lahan dapat menurunkan risiko bencana hidrometeorologi sekaligus memperbaiki fungsi ekosistem secara berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Polri Libatkan Ribuan Warga di Hari Bhayangkara ke-80
Ribuan warga ikut memeriahkan Upacara Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas, menegaskan tema 'Polri untuk Masyara...
Bina Marga Perkuat Konektivitas Jalan Dukung Prioritas Nasional 2027
Bina Marga perkuat konektivitas jalan untuk dukung prioritas nasional 2027, memperlancar arus barang, jasa,...
Bawaslu: AI Ubah Pola Tindak Pidana Pemilu
Bawaslu: AI menggeser modus tindak pidana pemilu ke ranah siber dan menuntut pembaruan hukum serta penguatan...
Hari Bhayangkara ke-80: Polri Tegaskan Transformasi untuk Masyarakat
Polri peringati Hari Bhayangkara ke-80 di Cikeas dan menegaskan transformasi kelembagaan serta layanan publi...
Ombudsman: Perlintasan Sebidang Resmi Solusi Realistis Keselamatan
Ombudsman mendorong perlintasan sebidang berstatus resmi, dilengkapi palang pintu dan petugas, sebagai solus...
Menteri PKP Perkuat Sinergi, Kuota BSPS Naik Signifikan
Menteri PKP Maruarar Sirait umumkan kenaikan kuota BSPS signifikan per 1 Juli 2026 untuk percepat penanganan...