DPR Minta Reformasi Regulasi Narkotika untuk Atasi Overcrowded Lapas
Anggota Komisi XIII DPR RI, Yanuar Arif Wibowo, meminta pemerintah segera mereformasi regulasi penanganan narkotika untuk mengatasi overcrowded di lembaga pemasyarakatan. Permintaan itu disampaikan di Gedung Komisi XIII DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026. Ia menekankan perlunya pemisahan antara pengguna yang perlu rehabilitasi dan pelaku kriminal seperti bandar.
Dorongan revisi regulasi narkotika
Yanuar menilai revisi Undang-Undang Narkoba krusial untuk mengurai kepadatan lapas. Menurutnya, jika pengguna dikategorikan sebagai korban, opsi rehabilitasi bisa menggantikan hukuman penjara. Langkah ini diharapkan mengurangi beban lapas yang kini didominasi kasus narkoba.
"Di penjara itu 50-70 persen kasusnya adalah narkoba, kalau nanti di Undang-Undang Narkoba itu bisa direvisi. Kemudian dipilah bahwa pengguna itu bisa dikategorikan sebagai korban, maka bisa jadi dia direhabilitasi, bukan dipenjara,"
Pemisahan pelaku narkotika di lapas
Yanuar menyampaikan masalah utama adalah ketidakmampuan sistem penegakan hukum dalam memetakan profil penghuni lapas. Ia menjelaskan banyak kasus tidak jelas statusnya: apakah bandar, pengedar, atau pemakai. Ketidakjelasan ini memperparah overcrowded yang terjadi di narapidana narkotika.
"Karena di lapas itu, 50 hingga 70 persen itu tidak terurai, mana bandar, mana pengedar, mana pemakai. Nah, ini yang membuat overcrowded itu, kalau bandar dan pengedar, ini kan kriminal,"
Peran Bapas dan sanksi alternatif
Selain revisi UU Narkoba, Yanuar mendorong optimalisasi implementasi KUHP dan KUHAP baru melalui penguatan Balai Pemasyarakatan (Bapas). Ia menekankan Bapas bisa menjalankan sanksi alternatif seperti pidana kerja sosial untuk kasus dengan tuntutan hukuman rendah.
"Lapas ini menjadi salah satu ujung tombak dalam KUHP dan KUHAP baru kita, dengan diberdayakannya Bapas untuk tindak pidana kerja sosial. Orang yang tuntutan hukumannya maksimal 5 tahun, nanti putusan hakimnya 6 bulan, itu bisa melakukan kerja-kerja sosial,"
Data kepadatan lapas
Kondisi overcapacity lapas di Indonesia bukan isu kecil. Menteri Hukum dan HAM, Agus Andrianto, melaporkan tingkat kepadatan yang signifikan per 30 April 2026. Angka ini memperkuat argumen perlunya reformasi kebijakan terkait penanganan kasus narkotika.
| Tanggal | Total Warga Binaan | Warga Binaan Kasus Narkotika |
|---|---|---|
| 30 April 2026 | 271.602 | 146.376 (53%) |
"146.376 orang atau 53 persen merupakan tindak pidana narkotika. Ini bukan lagi sekadar krisis overcapacity,"
Reformasi regulasi, pembagian tegas antara pelaku kriminal dan pengguna, serta pemberdayaan Bapas dinilai sebagai langkah utama untuk mengurangi kepadatan lembaga pemasyarakatan. Perubahan kebijakan tersebut diharapkan memberikan alternatif selain pemidanaan yang berujung pada penjara.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DKPP Pastikan Aduan Pelanggaran Etik soal Helikopter KPU Telah Diperiksa
DKPP memastikan aduan pelanggaran etik terkait penggunaan helikopter oleh KPU pada 2024 telah ditindaklanjut...
Bakom: Sistem Kelistrikan Jawa-Bali Sudah Pulih
Bakom menyatakan sistem kelistrikan Jawa-Bali telah pulih dan pasokan stabil; rasio elektrifikasi nasional m...
Sigit Purnomo Puji Kepercayaan Publik terhadap Polri 82,4%
Sigit Purnomo menyambut naiknya kepercayaan publik terhadap Polri menjadi 82,4% menurut Survei Litbang Kompa...
Kemenhub Dukung GSPI ASRI 2026 untuk Efisiensi Logistik
Kemenhub dukung GSPI ASRI 2026 untuk percepat transformasi pelabuhan demi efisiensi logistik, digitalisasi,...
Lukashenko Hadiahi Presiden Prabowo Pulpen Emas saat Kunjungan Kenegaraan
Presiden Lukashenko memberi pulpen emas kepada Presiden Prabowo usai upacara penyambutan di Istana Merdeka,...
DKPP Minta Media Arus Utama Jaga Ruang Digital dari Hoaks
DKPP meminta media arus utama jadi rujukan publik dan memperketat verifikasi untuk menekan penyebaran hoaks...