Jakarta Sambungkan Hotel di Bundaran HI ke MRT lewat Koridor Bawah Tanah
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana pembangunan jaringan terowongan pejalan kaki bawah tanah yang menghubungkan sejumlah hotel ikonik di sekitar Bundaran HI langsung ke stasiun MRT. Pengumuman disampaikan pada acara peringatan ulang tahun ke-25 sebuah media di Bursa Efek Indonesia pada Selasa. Tujuannya untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan keterhubungan pejalan kaki di pusat kota.
Koridor bawah tanah di Bundaran HI
Rencana itu meliputi pengaitan Grand Hyatt, Pullman, Hotel Indonesia Kempinski, dan Mandarin Oriental dengan stasiun MRT melalui jaringan koridor bawah tanah. Pemerintah provinsi menilai koneksi ini akan mempermudah akses penumpang dan mengurangi lalu lintas pejalan kaki di permukaan.
"Hotel-hotel di bawah kawasan Bundaran HI kini sedang dihubungkan bawah tanah, dan jaringan ini akan terhubung langsung ke MRT," ujar Pramono Anung.
Terowongan antar-mal di Senayan
Pramono juga menyatakan rencana memaksa pembangunan terowongan penghubung antara Senayan City dan Plaza Senayan untuk mengatasi kemacetan pejalan kaki antara dua mal itu. Proposal ini sempat mandek karena ketidaksepakatan pengelola.
Jika pengelola menolak, pemerintah daerah mengancam akan menaikkan beban pajak sebagai sanksi. Langkah ini dimaksudkan agar pengembang turut menanggung dampak operasional terhadap kemacetan kota.
Ekspansi transportasi dan data pengguna
Pemerintah provinsi juga memperluas jaringan bus Transjabodetabek untuk menghubungkan Jakarta dengan kota-kota satelit. Pramono mencatat lonjakan penumpang pada rute Bogor–Jakarta dari sekitar 2.000 menjadi 12.000 orang, menandakan permintaan tinggi untuk angkutan terpadu di wilayah metropolitan.
Pembiayaan dan tata kelola BUMD
Untuk mendanai proyek infrastruktur, Jakarta menerbitkan obligasi daerah pertama sebesar Rp 3,5 triliun tahun ini. Pemerintah juga menegaskan komitmen memperbaiki tata kelola BUMD dengan menjaga profesionalisme manajemen dan mengurangi intervensi politik.
Dalam catatan pemerintah provinsi, utilitas air daerah, PAM Jaya, saat ini mencatat laba tahunan lebih dari Rp 1 triliun, yang menjadi salah satu sumber pendanaan bagi program kota.
Rencana ekonomi malam dan implikasi
Salah satu inisiatif lain adalah pengembangan distrik hiburan malam di pusat kota yang direncanakan beroperasi dari pukul 17.00 sampai 05.00. Tujuan utamanya untuk mendorong pariwisata dan ekonomi malam, meski lokasi pasti belum diumumkan.
Rencana koridor bawah tanah serta serangkaian kebijakan transportasi dan pembiayaan menunjukkan upaya Jakarta memperbaiki mobilitas dan memulihkan fungsi pusat kota. Implementasi proyek ini akan menjadi tolok ukur keberhasilan integrasi moda dan penataan ruang publik ke depan.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Bandung Lautan Api: Pembakaran Kota 24 Maret 1946
Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946 adalah pembakaran terencana untuk mengosongkan kota agar fasilitas tid...
15 Agustus: Hari Perdamaian, Kemerdekaan, dan Perayaan Keagamaan
15 Agustus menandai pengumuman penyerahan Jepang 1945, Hari Perdamaian Aceh, kemerdekaan beberapa negara, da...
Mengenal BPUPKI: Titik Awal Gagasan Kemerdekaan
BPUPKI didirikan 1 Maret 1945 sebagai forum perumusan dasar negara; Soekarno memperkenalkan Pancasila pada 1...
Tapal Market Luncurkan Gabin Tapal, Rethink Gabin di Bandung
Tapal Market meluncurkan Gabin Tapal di Bandung sebagai bagian dari RETHINK GABIN, menawarkan enam interpret...
Makna Hymne Guru: Peran Pendidik dalam Membangun Generasi Bangsa
Lagu 'Hymne Guru' karya Sartono (1980) mengapresiasi peran guru dalam mencerdaskan dan membentuk karakter ge...
13 Agustus: HUT MK, Hari Kidal & Peringatan Lainnya
13 Agustus menandai HUT Mahkamah Konstitusi serta peringatan internasional seperti Hari Kidal dan Hari Filet...