Nasional

Ratu Zaleha: Pejuang Perempuan dari Kalimantan Selatan

Bagikan:
Makam atau monumen Ratu Zaleha, pahlawan perempuan dari Kalimantan Selatan

Ratu Zaleha adalah perempuan pejuang asal Kalimantan Selatan yang meneruskan perlawanan Kesultanan Banjar melawan Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia putri Sultan Muhammad Seman dan cucu Pangeran Antasari, aktif dalam fase akhir Perang Banjar, menyerah kepada pemerintah kolonial pada 1906, diasingkan ke Pulau Jawa, lalu kembali ke Kalsel dan meninggal dunia pada 24 September 1953.

Latar keluarga dan posisi

Ratu Zaleha lahir dalam keluarga Kesultanan Banjar yang memiliki tradisi perlawanan terhadap kolonialisme. Hubungan keluarganya dengan tokoh besar Pangeran Antasari menempatkannya dalam jaringan perjuangan yang kuat di wilayah pedalaman Kalimantan.

Posisinya sebagai anggota keluarga kerajaan memberi akses dan pengaruh dalam upaya memobilisasi simpatisan, termasuk kalangan Dayak dan kelompok masyarakat lokal lainnya.

Peran dalam Perang Banjar

Perang Banjar berlangsung sejak 1859 dan menjadi konflik panjang melawan campur tangan Belanda. Di fase akhir perang, ketika tekanan kolonial semakin berat, Ratu Zaleha aktif bersama sisa pasukan Banjar dan sekutu Dayak mempertahankan wilayah pedalaman.

Keberadaannya menunjukkan bahwa perlawanan bukan hanya peran laki-laki. Perempuan juga mengambil posisi penting dalam jaringan perlawanan, baik sebagai penggerak moral maupun bagian dari struktur perjuangan lokal.

Serah diri, pengasingan, dan akhir hidup

Setelah Sultan Muhammad Seman gugur di Manawing pada 1905, ruang gerak pasukan Banjar menyempit. Tekanan militer dan kondisi fisik yang menurun memaksa Ratu Zaleha mengambil keputusan sulit: menyerah pada kolonial pada 1906.

Ia dan keluarganya kemudian diasingkan ke Pulau Jawa. Pengasingan itu bukan akhir dari jejak perjuangannya. Ratu Zaleha akhirnya kembali ke Kalimantan Selatan dan menghabiskan sisa hidupnya di tanah kelahiran hingga wafat pada 24 September 1953. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Kesultanan Banjar di Banjarmasin.

Warisan dan pengakuan

Ratu Zaleha dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan yang mewakili fase akhir Perang Banjar. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dan namanya diabadikan pada fasilitas publik, termasuk Rumah Sakit Umum Daerah Ratu Zalecha di Martapura.

Lebih dari satu abad kemudian, kisahnya mengingatkan bahwa perjuangan melawan kolonialisme berlangsung lintas generasi dan melibatkan peran perempuan yang krusial.

  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi / Direktorat terkait sejarah dan cagar budaya mengenai Perang Banjar.
  • Arsip dan literatur sejarah mengenai Pangeran Antasari, Sultan Muhammad Seman, dan Ratu Zaleha.
  • Literatur sejarah lokal Kalimantan Selatan.
  • Referensi mengenai Perang Banjar 1859–1905 dan fase akhir perjuangan Kesultanan Banjar.
  • Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Banjar terkait RSUD Ratu Zalecha Martapura.

Ratu Zaleha tetap menjadi simbol keberanian perempuan Kalimantan yang memilih bertahan demi kehormatan dan tanah kelahirannya di tengah tekanan kolonial.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait