Rais Aam NU Harus Diisi Ulama Berilmu dan Berintegritas
Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama pada Agustus 2026, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawy menegaskan bahwa jabatan Rais Aam harus diisi ulama berotoritas, berintegritas, dan visioner.
Ia menyampaikan harapan itu dalam tulisan tentang otoritas keulamaan menjelang muktamar. Menurutnya, pemilihan Rais Aam bukan sekadar kontestasi politik organisasi. Jabatan ini adalah kepemimpinan keagamaan yang menjaga tradisi Aswaja An-Nahdliyah.
Kriteria Rais Aam
Khalilur menekankan beberapa kriteria utama yang harus dimiliki calon Rais Aam. Penguasaan terhadap fiqih, akidah, dan tasawuf menjadi syarat utama. Selain itu, rekam jejak pengabdian kepada umat, karya keilmuan, serta keteladanan hidup harus menjadi penentu.
- Penguasaan ilmu dasar Aswaja: fiqih, akidah, tasawuf
- Integritas moral dan wara'
- Rekam jejak pengabdian dan karya kebangsaan
- Kesediaan menjalankan peran sebagai pemimpin spiritual
Saya memandang muktamar kali ini membawa satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar ketimbang sekadar soal siapa memilih siapa. Sosok seperti apakah yang layak menduduki kursi Rais Aam, jabatan tertinggi dalam struktur NU?
Mekanisme Pemilihan dan Tradisi
Untuk Muktamar Ke-35, Khalilur menyebut sistem ahlul halli wal aqdi kembali digunakan untuk memilih Rais Aam secara musyawarah. Menurutnya, mekanisme itu memastikan pemilihan dilakukan oleh ulama yang memenuhi syarat keilmuan, integritas, wara', dan zuhud.
Ia juga mencatat sembilan nama masyayikh yang muncul menjelang muktamar sebagai bukti kuatnya tradisi sanad keilmuan di NU. Sejarah dan keteladanan para pendiri harus menjadi acuan dalam proses ini.
Rekam Jejak dan Tantangan Masa Depan
Khalilur mengingatkan bahwa Rais Aam terdahulu dikenal oleh kedalaman ilmu dan kiprah kebangsaan mereka. Oleh karena itu, para muktamirin perlu menilai calon berdasarkan rekam jejak tersebut. Jabatan ini bukan sekadar posisi struktural organisasi.
Siapa pun yang kelak duduk di kursi itu harus sanggup menjaga kesinambungan tradisi keulamaan. Sekaligus menjawab tantangan masa depan umat
Menurut Khalilur, Rais Aam merupakan amanah untuk menjadi imam bagi tradisi keagamaan yang hidup jauh sebelum NU resmi berdiri pada 1926. Pilihan pada Agustus 2026 akan menentukan arah keagamaan organisasi itu untuk dekade mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KAI Commuter Imbau Antisipasi Gangguan KRL Pasca Dua Insiden
KAI Commuter minta penumpang antisipasi gangguan KRL usai dua insiden yang menyebabkan keterlambatan pada 20...
Kementerian Ekonomi Kreatif Jajaki Kolaborasi dengan ION Perluas Pasar Digital
Kemenparekraf bertemu ION pada 20 Agustus 2026 untuk perluas akses pasar digital, dorong AI, pemasaran digit...
Bendera Raksasa 10x5 m Dikibarkan di Muara Tujuh Sungai Subang
Bendera Merah Putih 10x5 meter dikibarkan di Muara Tujuh Sungai, Subang saat HUT RI ke-81 sambil mengkampany...
Menekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community di TIM
Menekraf Teuku Riefky Harsya apresiasi pameran SBY Art Community di TIM (18–30 Agustus 2026) sebagai ruang k...
Perlinsos Digital: Bakom Sebut Pendaftaran Bansos dari 200 Hari Jadi 5 Menit
Bakom: uji coba Perlinsos Digital mempercepat pendaftaran bansos dari 200 hari menjadi sekitar lima menit, d...
Wamentrans Viva Yoga Ajak Bantu Korban Gempa NTT saat HUT RI ke-81
Wamentrans Viva Yoga mengajak semua pihak bantu korban gempa NTT saat perayaan HUT RI ke-81 dan menekankan s...