Papan Digital Interaktif Perkuat Pembelajaran di Sekolah 3T
Papan digital interaktif membantu guru dan siswa di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T) membuat pembelajaran lebih visual dan interaktif. Di SMA Negeri 1 Bintan Pesisir, Kepulauan Riau, guru menyebut alat ini meringankan keterbatasan buku dan meningkatkan keterlibatan siswa.
Manfaat langsung untuk pengajaran
Guru Sejarah Nurjaman mengatakan perangkat layar sentuh pintar memudahkan guru memvisualisasikan materi yang sulit dijelaskan hanya dengan teks. Alat itu juga berfungsi sebagai proyektor sekaligus media interaksi langsung.
“Tentu sangat meringankan ya apalagi untuk kami sekolah di pulau. Sangat membantu kami untuk menjelaskan memvisualisasikan materi yang kami ajarkan karena memang di kami buku terbatas,”
Menurut Nurjaman, Interactive Flat Panel (IFP) membuat siswa lebih fokus dan aktif. Siswa dapat menulis, menggambar, mengedit, dan berinteraksi langsung pada layar sehingga respon dan partisipasi meningkat.
“Alat ini membantu siswa lebih fokus terhadap materi pembelajaran dan IFP. Selain menjadi proyektor, juga menjadi alat interaksi,”
Pengalaman di sekolah pulau
Di SMA Negeri 1 Bintan Pesisir terdapat tiga layar IFP yang aktif digunakan dalam proses belajar. Nurjaman berharap pemerintah menambah jumlah IFP, khususnya untuk sekolah di wilayah 3T yang masih kekurangan buku dan sumber belajar cetak.
“Kalau bisa ya ditambah lagi... semoga sih dapat lagi agar pembelajaran menjadi lebih interaktif lagi, dimanfaatkan oleh guru-guru dan sangat membantu siswa,”
Data dan kebijakan pemerintah
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, M Qodari, menyatakan kebijakan pembelajaran kini berfokus pada konten visual, interaktif, dan berbasis data. Pemerintah pusat mendukung percepatan digitalisasi dengan menyalurkan IFP ke sekolah-sekolah.
“Ini terbukti meningkatkan pemahaman dan keterlibatan peserta didik secara signifikan. Program digitalisasi pembelajaran terus menunjukkan kemajuan signifikan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.”
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sebanyak 288.865 sekolah menerima IFP pada 2025. Hingga akhir Juni 2026, IFP telah menjangkau ratusan ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Tantangan dan harapan ke depan
Pemerintah juga memperkuat akses internet dan memperluas jaringan listrik, terutama untuk wilayah 3T. Langkah ini dimaksudkan agar perangkat digital seperti IFP dapat berfungsi optimal dan mendukung pembelajaran yang lebih modern.
Meski sudah ada kemajuan, peningkatan jumlah perangkat, pelatihan guru, serta pemenuhan koneksi listrik dan internet tetap menjadi prasyarat agar digitalisasi pembelajaran berdampak merata di seluruh pelosok negeri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendag: Penilaian 'Excess Capacity' Harus Berdasarkan Bukti
Mendag Budi Santoso minta penilaian 'excess capacity' dibuat berbasis bukti sektoral, dibahas dalam G20 TMM...
Pakar: Gugatan Syarat Pendidikan Wapres Seharusnya Ditolak MK
Pakar hukum menilai gugatan soal syarat pendidikan Wapres Gibran seharusnya tak dapat diterima MK karena sub...
Olivia Zalianty Harap Lagu Pancasila Perkuat Nilai Kebangsaan
Olivia Zalianty merilis lagu "Pancasila" untuk membantu masyarakat meresapi nilai negara melalui musik yang...
Kekeringan Meteorologis vs Hidrologis: Apa Bedanya?
BMKG jelaskan perbedaan kekeringan meteorologis dan hidrologis; 25 wilayah Jatim minta bantuan air hingga aw...
Kemenperin Siapkan SDM Kelola Pusat Logistik Industri Bambu
Kemenperin menyiapkan SDM lewat AKB 2026 untuk mengelola Pusat Logistik Industri Bambu, memperkuat rantai pa...
HUT ke-81 TNI: Pengendara Diminta Hindari Kawasan Cilangkap
Pengendara diimbau menghindari kawasan Mabes TNI Cilangkap pada Senin 5 Okt 2026 mulai pukul 06.00 WIB karen...