Profil Rachmat Gobel, Pengusaha dan Mantan Wakil Ketua DPR
Rachmat Gobel, tokoh bisnis dan politik Indonesia, meninggal dunia pada Jumat, 10 Juli 2026 pada usia 63 tahun. Almarhum dikenal sebagai pendiri figur penting dalam industri elektronik dan sebagai politikus yang pernah menjabat di kabinet serta pimpinan DPR.
Awal hidup dan pendidikan
Rachmat Gobel lahir di Gorontalo pada 3 September 1962 dari keluarga pendiri Gobel Group. Ia menempuh pendidikan di Chuo University, Jepang, sebelum kembali ke Indonesia untuk bergabung dengan usaha keluarga.
Karier di dunia usaha
Di bawah kepemimpinannya, Gobel Group berkembang menjadi salah satu pemain utama di sektor elektronik Tanah Air. Perusahaan itu dikenal bermitra dengan merek global seperti Panasonic, dan memperluas jaringan produksi serta distribusi di dalam negeri.
Aktivitasnya tidak terbatas pada perusahaan keluarga. Rachmat juga aktif dalam organisasi dunia usaha, termasuk keterlibatan di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN).
Peralihan ke pemerintahan dan legislatif
Pengalaman bisnis membuka jalan bagi kariernya di pemerintahan. Pada periode 2014–2015, ia diangkat sebagai Menteri Perdagangan dalam Kabinet Kerja. Jabatan itu menempatkannya pada posisi penting untuk kebijakan perdagangan dan industri.
Setelah masa di kabinet, Rachmat melanjutkan kiprah politiknya lewat parlemen. Pada Pemilu 2019 ia terpilih menjadi anggota DPR RI mewakili daerah pemilihan Gorontalo dari Fraksi Partai NasDem.
Peran kepemimpinan di DPR
Pada periode 2019–2024, Rachmat Gobel dipercaya memegang posisi Wakil Ketua DPR RI. Ia kemudian kembali memperoleh mandat sebagai anggota DPR pada Pemilu 2024. Terbaru, ia tercatat sebagai anggota Komisi VI DPR RI sebelum wafat.
Secara ringkas, posisi-posisi penting yang dijalani almarhum meliputi:
- Menteri Perdagangan (2014–2015)
- Wakil Ketua DPR RI (2019–2024)
- Anggota DPR RI dari Partai NasDem (2019, 2024)
Warisan dan pengaruh
Rachmat Gobel meninggalkan jejak pada dua ranah utama: korporasi dan politik. Kepemimpinannya di sektor industri membantu memperkuat rantai pasok elektronik di Indonesia. Sementara kiprahnya di parlemen dan kabinet memberi kontribusi pada kebijakan perdagangan dan hubungan bisnis-pemerintah.
Kepergian almarhum menandai hilangnya salah satu figur yang menjembatani dunia usaha dan pemerintahan. Dampak kebijakan serta pengaruhnya di industri kemungkinan akan menjadi bagian pembahasan publik dan bisnis ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Sejarah Pos Indonesia: Dari Batavia 1746 hingga Jaringan 24 Ribu Titik
Pos Indonesia diperingati setiap 26 Agustus, menandai kantor pos pertama di Batavia (1746) dan perkembangan...
Fahira Ungkap 6 Urgensi RUU Perampasan Aset
Fahira Idris sebut enam urgensi percepatan RUU Perampasan Aset; target pengesahan Desember 2026 untuk perkua...
Prabowo: Pimpinan Danantara Pantas Dapat Bintang Kehormatan
Presiden Prabowo menyebut pimpinan Danantara layak mendapat bintang kehormatan karena berhasil menekan keboc...
Maulid Nabi 1448 H: Momentum Perkuat Kepedulian Sosial
Maulid Nabi 1448 H pada 25 Agustus 2026 dijadikan momentum untuk memperkuat kepedulian sosial dan meneladani...
Prabowo Jadikan PLTS 100 GWp Pilar Kemandirian Energi
Presiden Prabowo luncurkan Program PLTS 100 GWp di Bali sebagai langkah kemandirian energi, dipadukan dengan...
PU Kerahkan Pompa dan Air Tangani Karhutla di Kalteng & Malut
Kementerian PU mengerahkan pompa, personel, dan pasokan air untuk memadamkan karhutla di Kalimantan Tengah d...