Nasional

Kementan Salurkan Delapan Pompa Atasi Kekeringan di Subang

Bagikan:
Petani dan petugas memeriksa pompa air di sawah Manyingsal Subang

Kementerian Pertanian menyalurkan delapan unit pompa air ke Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Rabu, 9 Juli 2026 untuk mengatasi ancaman kekeringan dan menjaga musim tanam padi. Langkah ini dilakukan setelah pengecekan lapangan di Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunagara, yang menunjukkan kebutuhan mendesak pasokan air untuk lahan sawah.

Bantuan pompa dan pengecekan lapangan

Penyaluran dilakukan oleh Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian bersama Pemerintah Kabupaten Subang. Tim memetakan titik-titik yang membutuhkan irigasi perpompaan dan menyiapkan pelaksanaan bertahap mulai hari berikutnya.

"Terhadap tiga hingga empat desa yang kami kunjungi di dua kecamatan, akan diupayakan bantuan sebanyak delapan unit irigasi perpompaan. Pelaksanaannya dimulai secara bertahap mulai besok dan dilanjutkan pada minggu-minggu berikutnya,"

Pemerintah menargetkan penempatan pompa pada titik yang paling kritis agar seluruh lahan terdampak cepat menerima pasokan air.

Target nasional dan data penyaluran

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya bertindak cepat sebelum kekeringan meluas. Pompanisasi disebut sebagai salah satu strategi utama menjaga kontinuitas tanam dan produksi pangan.

"Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam,"

Kementan mencatat telah menyalurkan 80.158 unit pompa air pada 2023–2025. Untuk 2026, pemerintah menargetkan tambahan 11.000 unit pompa.

Respons lokal dan kondisi sawah

Hasil pengecekan menunjukkan Desa Manyingsal sangat membutuhkan pasokan air karena tanaman padi memasuki fase kunci pertumbuhan. Ketua Gapoktan Manyingsal melaporkan luas sawah terdampak mencapai puluhan hektare.

"Tahun ini kemaraunya sangat parah, bahkan menjadi yang terberat sejak 2008 dan 2009. Saat ini usia tanaman padi sekitar 45 hingga 55 hari sehingga sangat membutuhkan pasokan air,"

Taryo, ketua Gapoktan, menyampaikan harapan agar bantuan pompa dan pengeboran sumber air bisa segera menyelamatkan tanaman petani.

Langkah teknis dan prospek jangka panjang

Diskusi teknis mencakup survei geolistrik untuk menentukan titik pengeboran sumber air. Hal ini dimaksudkan agar solusi tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga berkelanjutan untuk menghadapi musim kemarau berikutnya.

"Khusus di Desa Manyingsal memang tidak ada sumber air permukaan sehingga harus mengandalkan sumur pantek atau jaringan irigasi air tanah dalam. Melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian, kami sepakat menghadirkan solusi irigasi perpompaan,"

Pemerintah daerah dan pusat berkomitmen memetakan daerah terdampak hingga puncak kemarau pada Agustus dan terus memberikan bantuan sesuai kebutuhan. Sinergi antara Kementan, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani dianggap krusial untuk menjaga produksi pangan nasional.

Dengan penempatan pompa dan langkah teknis lanjutan, diharapkan pasokan air untuk sawah terdampak dapat terjaga sehingga musim tanam dan produksi padi tetap terjamin.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait