Airlangga: Pemerintah Perkuat Fondasi Ekonomi Hadapi Ketidakpastian
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Strategi penguatan fondasi ekonomi
Airlangga menyebut fokus penguatan meliputi rantai pasok, kedaulatan pangan, dan energi. Langkah ini ditujukan untuk merespons tekanan eksternal serta pemanfaatan teknologi baru, termasuk artificial intelligence.
Jadi, di tengah ketidakpastian, terutama akibat konflik geopolitik yang belum selesai, ditambah disrupsi teknologi seperti artificial intelligence. Indonesia harus memperkuat fondasi ekonomi, terutama terkait dengan supply chain
Energi: B50 dan penghematan devisa
Salah satu bukti kekuatan energi Indonesia menurut Airlangga adalah implementasi program B50 biodiesel. Ia menyatakan B50 membuat negara tidak lagi mengimpor solar, menghemat devisa sebesar Rp177 triliun, serta mengurangi emisi sekitar 44 juta ton CO2 ekuivalen.
Kemarin Bapak Presiden meluncurkan B-50. Program itu menunjukkan Indonesia memiliki kekuatan sendiri karena tidak lagi mengimpor solar
Percepatan energi terbarukan dan ekosistem baterai
Selain B50, pemerintah mulai mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas target 100 gigawatt. Pengembangan PLTS ini didukung oleh industri hilir baterai kendaraan listrik dan battery energy storage system, yang diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional.
Pengembangan industri semikonduktor
Di sektor teknologi, pemerintah mempercepat pengembangan industri semikonduktor nasional. Airlangga menyebut kerja sama dengan perusahaan desain cip global Arm menjadi bagian dari strategi itu. Program pelatihan ditujukan untuk membangun sumber daya manusia lokal.
Dan Indonesia sendiri untuk pengembangan semikonduktor sudah mengajak mitra yang namanya Arm. Arm itu menguasai hampir lebih dari 90 persen daripada pengembangan chip design
Rencana pelatihan tersebut mencakup sekitar 15.000 teknisi dan engineer untuk mendukung ekosistem semikonduktor di dalam negeri.
Implikasi dan prospek
Langkah-langkah yang disebutkan Airlangga menunjukkan arah kebijakan yang menekankan self-reliance pada energi dan teknologi. Jika terwujud, kombinasi B50, target PLTS, dan penguatan semikonduktor dapat memperkuat ketahanan ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, serta menciptakan lapangan kerja berteknologi tinggi.
Pemerintah perlu memastikan realisasi investasi, transfer teknologi, dan program pelatihan berjalan seiring untuk mengoptimalkan manfaat kebijakan ini bagi pertumbuhan jangka panjang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPR Minta Rekening Aktivis Supriyono 'Botok' Dipulihkan
Komisi III DPR minta rekening aktivis Supriyono alias Botok dipulihkan segera karena tidak ditemukan persoal...
Menkomdigi Kukuhkan 9 Anggota KPI Pusat Periode 2026-2029
Menkomdigi Meutya Hafidz mengukuhkan sembilan anggota KPI Pusat periode 2026–2029 di Jakarta, Rabu 26 Agustu...
Sektor Ritel Serap Jutaan Pekerja dan Dorong Konsumsi
Sektor ritel menyerap jutaan tenaga kerja dan mendorong konsumsi; kontribusi 53,32% terhadap PDB, pertumbuha...
BPBD Ende Distribusikan 12.300 Paket Sembako untuk Korban Gempa
BPBD Ende menyalurkan 12.300 paket sembako kepada korban gempa, melebihi 7.590 keluarga terdampak per 25 Agu...
Gus Yahya Silaturahmi ke Kiai Kafa, Bahas Masa Depan NU
KH Yahya Cholil Staquf bersilaturahmi ke Kiai Kafa di Lirboyo (26/8/2026) untuk membahas peran pesantren men...
BPBD Ende Mulai Trauma Healing dan Bantuan Rumah Pascagempa
BPBD Ende mulai jalankan trauma healing dan bantuan perbaikan rumah untuk ibu-anak korban gempa, serta dukun...