Lokal

Profesor Bahas Grand Design Pendidikan Aceh Menuju 2045

Bagikan:
Forum Profesor Bicara Pendidikan Aceh di Aula Dinas Pendidikan Aceh

Sejumlah profesor Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala bersama Dinas Pendidikan Aceh menggelar forum "Profesor Bicara Pendidikan Aceh" di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Selasa (19/5). Pertemuan itu membahas perumusan grand design pendidikan Aceh hingga 2045 dan strategi kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan sekolah untuk memperbaiki mutu pendidikan.

Tujuan forum dan peserta

Forum mempertemukan akademisi, legislator, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan. Mereka menyampaikan kritik, gagasan, dan solusi atas persoalan pendidikan daerah. Diskusi menekankan pentingnya arah pembangunan terintegrasi agar setiap jenjang pendidikan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Grand design pendidikan hingga 2045

Para profesor menyoroti kebutuhan perencanaan jangka panjang yang jelas. Grand design diharapkan menjadi panduan bersama untuk kebijakan, kurikulum, dan alokasi anggaran. Hal ini penting agar Aceh dapat bersaing dalam upaya mencapai target menuju Indonesia Emas 2045, menurut Prof. Sahminan.

Kolaborasi kampus dan pemerintah

Kepala delegasi profesor, Murthalamuddin, menekankan bahwa pertemuan bukan sekadar seremonial, melainkan langkah awal kolaborasi nyata. Ia menyarankan adanya pilot project berupa sekolah binaan yang dikelola guru besar sebagai model inovasi di jenjang menengah.

"Pertemuan ini hanyalah titik awal. Akan ada lanjutannya. Para guru besar juga perlu memiliki sekolah binaan sebagai pilot project di pendidikan menengah,"

Pelestarian bahasa dan muatan lokal

Isu pelestarian bahasa daerah menjadi pembahasan hangat. Sejumlah peserta mendorong penguatan muatan lokal bahasa Aceh dalam kurikulum sekolah. Namun, kepala sekolah dari Blangkejeren, Aguswati, mengingatkan kebijakan harus menghormati keberagaman bahasa daerah lain, antara lain:

  • Gayo
  • Alas
  • Tamiang
  • Aneuk Jamee

Literasi, numerasi, dan program penguatan

Persoalan literasi dan numerasi siswa juga menjadi fokus. Prof. Mohd. Harun mendorong kebiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran serta penguatan budaya menulis tangan untuk memperkuat daya ingat. Sementara itu, Prof. Rahmah Johar mengusulkan agar program "Professor Goes To School" diperluas karena dinilai efektif membantu pemahaman siswa, terutama matematika.

Dukungan legislatif dan isu lain

Dari sisi legislatif, anggota DPRA Dr. Irpannusir menyatakan kesiapan mendukung regulasi yang diperlukan, termasuk kebijakan pelestarian bahasa daerah dan penertiban kutipan liar di sekolah. Forum juga menyinggung pentingnya:

  • riset pendidikan
  • peningkatan kualitas kepala sekolah dan guru
  • budaya kebersihan sekolah
  • penguatan pendidikan Islami yang terukur

Kesimpulan dan prospek

Di akhir pertemuan peserta sepakat bahwa kemajuan pendidikan Aceh memerlukan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, kampus, sekolah, dan masyarakat. Forum disepakati menjadi titik awal tindak lanjut konkret untuk menyusun grand design dan program pilot yang dapat diimplementasikan dalam jangka menengah hingga 2045.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!