Kementan: Produksi Susu Nasional Baru 20 Persen
Kementerian Pertanian menyatakan produksi susu nasional baru mencapai 20 persen dari kebutuhan dalam negeri. Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, saat acara di NICE PIK2, Kabupaten Tangerang, Selasa 16 Juni 2026.
Rendahnya produksi dan penyebab
Menurut Agung, jumlah peternak sapi perah di Indonesia mencapai sekitar 50 ribu orang. Namun produksi susu domestik masih relatif kecil sehingga mayoritas kebutuhan dipenuhi dari impor.
Agung menjelaskan perbedaan praktik dengan negara lain menjadi salah satu penyebab. Di luar negeri, peternak menyisihkan susu untuk keluarga, baru kemudian menjual ke pasar.
"Untuk produksi susu kita saat ini secara nasional memang masih relatif rendah, baru sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional. Peternakan sapi perah kita, kurang lebih ada sekitar 50 ribua-an peternak sapi perah, ya,"
"Tetapi yang lucunya, mereka (peternak) hanya beternak, tetapi susunya dia perah dari sapinya yang dipelihara untuk dijual. Nah, anak-anaknya bahkan jarang yang minum susu juga,"
Di Indonesia, menurut Agung, praktiknya berbeda. "Kalau di kita kan mayoritas dijual semua," tambahnya.
Data konsumsi susu per kapita
Data Kementan menunjukkan konsumsi susu per kapita Indonesia masih rendah, sekitar 16,8 kg atau setara dengan 17,8 liter per tahun.
"Ya, jadi konsumsi minum susu kita di Indonesia itu masih cukup kecil. Kita 16,8 kg atau setara dengan 17,8 liter per kapita per tahun,"
Agung menekankan angka itu setara dengan "sekitar satu sendok per hari" jika dirata-ratakan. Posisi ini menempatkan Indonesia di urutan ketujuh di Asia Tenggara dalam hal konsumsi susu.
Strategi pemerintah dan kebijakan yang disiapkan
Kementan tengah mendorong program sosialisasi terkait konsumsi susu, termasuk gerakan minum susu, revolusi putih, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.
"Kita terus mendorong percepatan produksi susu nasional. Insyaallah dalam waktu dekat, instruksi presiden tentang percepatan produksi susu dan daging nasional akan segera terbit,"
Agung menambahkan finalisasi pembahasan Inpres telah dilakukan beberapa minggu terakhir. Inpres ditargetkan mengkoordinasikan kementerian, lembaga, dan peternak untuk meningkatkan produksi susu dan daging.
Dampak bagi gizi anak dan prospek ke depan
Rendahnya konsumsi susu berdampak pada asupan protein hewani anak-anak, sehingga penguatan program MBG dan edukasi menjadi penting.
"Dengan program BMG yang didalamnya ada minum susu... ini terus mendorong agar konsumsi per kapita anak-anak kita itu jauh lebih tinggi, jauh lebih meningkat,"
Jika Inpres segera diterbitkan, Kementan berharap percepatan produksi lokal akan mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan ketersediaan susu untuk keluarga di seluruh Indonesia.
Berita Terkait
Anggaran Kemenkeu 2027 Rp49,8 Triliun Disetujui DPR
Kemenkeu mendapat pagu indikatif Rp49,8 triliun untuk 2027, disetujui Komisi XI DPR guna mendukung mandat pe...
KA Rajabasa Pakai Kereta Ekonomi Premium Mulai 4 Juli 2026
KA Rajabasa beralih ke Kereta Ekonomi Premium mulai 4 Juli 2026; kapasitas dan kenyamanan ditingkatkan, tari...
Cara Kerja Obligasi untuk Investor Pemula
Panduan singkat tentang cara kerja obligasi: penerbit utang, pembayaran kupon berkala, dan pengembalian poko...
Rupiah Melemah 0,09% ke Rp17.725 Saat Tanggal Merah
Rupiah melemah 0,09% ke Rp17.725 pada 16 Juni 2026, terdorong kabar kesepakatan awal AS-Iran dan kekhawatira...
Menkeu Promosikan Panda Bond di Tiongkok untuk Diversifikasi Pembiayaan
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa promosi Panda Bond di Tiongkok (16-19 Juni 2026) untuk diversifikasi pembiayaan...
Rosan: Penguatan IHSG Cerminkan Optimisme Investor
Menteri Investasi Rosan Roeslani menyebut penguatan IHSG sebagai tanda optimisme investor, sambil mengingatk...